Maret, 2013.
Aku pergi menginap di rumah teman
dekatku. Saat itu akhir bulan dan aku pergi untuk 4-5 hari. Dirga menghubungi
ku sekali-kali, entah hanya menegur ku , atau hanya sekedar mengingatkan ku
soal makan. Dan aku hanya mnerespon seadanya, laki-laki yang sedang patah hati
adalah hal yang kuhindari. Apalagi dia adalah Dirga, orang yang beberapa bulan
terakhir ini cukup membuat perasaanku turun-naik.
Frekuensi Dirga menghubungiku
semakin sering. Aku bingung. Apa maunya orang ini? tapi aku mengikuti alurnya,
aku membalas setiap pesannya, mengikuti setiap jokesnya, dan suatu malam aku
melihat ia memasang namaku di statusnya. APA-APAAN NIH?
Laki-laki yang sedang patah hati,
laki-laki yang kuhindari, justru sekarang bisa membuat hatiku sedikit kacau.
Ini namanya kemakan omongan sendiri.
April, 2013.
Aku menatap layar ponselku. Sebuah gambar di
kirim Dirga untukku. Isinya sebuah layar laptop lcd yang menampilkan tulisan “
I love you, I want you and I need you.” Aku terdiam. Enggan untuk komentar. Apa
ini terlalu cepat ?
Aku kembali ke awal-awal kami mulai
akrab, komen-komen singkat dia soal foro-fotoku, atau sekedar pesan-pesan
mengingatkan soal makan dan ucapan selamat pagi-malam lainnya, sampai ia
menghilang dan kemudian aku menegurnya dan memberinya ceramah singkat soal
cinta. Aku bertemu dengannya beberapa kali, mengobrol beberapa hal waktu kami
masih sekolah, menghabiskan beberapa malam dengan bercerita satu sama lain
lewat telfon, atau hanya sekedar mendengarnya bernyanyi di ujung sana. Aku
mengingat semuanya, hingga sekarang, ia mengirimi ku gambar seperti ini.
Aku terdiam.
“ Mey .. “
Aku hanya membaca pesannya. Aku
tahu ia berharap jawabanku, dan entah kenapa, aku mengambil ponselku dan mulai
menggambar sesuatu di sana. Iya, aku membalas pesan gambarnya, dan ya, aku
membalas perasaannya.
April, 2013.
Aku menatap Dirga di sampingku,
wajahnya serius. Ia sedang menyetir dan sesekali menagangguk-anggukkan
kepalanya mengikuti nada musik yang
sedang kami dengar.
“ Di ... “ tegurku. Dirga menoleh
dan tersenyum kepadaku, senyum manisnya yang sempat kukutuk dalam hati saat
bulan Agustus tahun lalu.
“ kamu sudah sembuh ?” tanyaku
tiba-tiba.
Dirga menatapku heran , ia
terdiam cukup lama, kemudian memutuskan untuk menghentikan mobilnya di pinggir
jalan. Kami berhenti. Dirga menghadap ke arahku, ia menatapku cukup lama, aku
hanya diam balas memandangnya. Apa aku salah bertanya ?
“ sembuh apa ?”
Dirga bego. Sungutku dalam hati.
“ sembuh, kamu tau kan maksud ku
apa ?”
“ iya, maksud kamu soal hati ?”
tanyanya. Aku mengangguk pelan.
“ iya, udah . kalo belom sembuh,
kenapa aku sekarang sama kamu. “ jawabnya.
“ kamu yakin ?”
“ iya, Meyana. Aku yakin.
Sebenarnya aku yang ngerasa minder sama kamu, kamu inget kan aku pernah bilang
waktu itu sama kamu, kalo aku ngerasa gak pantas untuk kamu?” tanyanya. Aku
mengangguk lagi.
“ dan kamu jawab, “ kalo kamu
ngerasa gak pantas, aku juga enggak ngearasa pantas buat kamu.” Kamu jawab
begitu. Dan aku speechlees denger jawaban kamu, disitu aku mulai yakin kalo aku
bisa jadi yang terbaik buat kamu.”
“ iya. Tapikan kamu ...”
“ kenapa Mey? Karena aku kemarin
patah hati ? karena aku kemarin sakit hati karena di sia-sia-in?
Terus kenapa?
Apa aku gak boleh cari kebahagiaan aku lagi?”
Aku hanya diam.
“ Meyana. Aku paham kalo kamu
ngerasa gak yakin sama aku, waktu nya memang terlihat cepat, tapi dari awal aku
sudah suka kamu, dan aku memang sudah tertarik sama kamu, Cuma karena beberapa
hal aku terlihat maju mundur, tapi setelahnya aku yakin dan mulai sekarang aku
jadikan kamu sebagai tujuanku.”
Aku menoleh menatapnya. Dirga
tersenyum menatapku.
“ Meyana, gak apa-apa kan aku
jadikan kamu tujuanku?” tanyanya.
Aku menatap ke dalam matanya.
Tanpa sadar, aku mengangguk pelan. Dirga mengacak rambutku pelan, dan
menggenggam tanganku erat.
Langit sudah memerah, cahaya
matahari berwarna keemasan.
“ langitnya bagus, “ kata Dirga
pelan.
Aku tersenyum kecil. Iya lebih
bagus karena aku melihatnya bersama kamu. Sahutku dalam hati.
Mai, 2013.
Aku melengos melihat kelakuan
Dirga, ia sedang asyik bermain gitar virtual di ponselku. Apa rasanya sih main
gitar di hape ? Dirga menyukai musik. Ia senang mendengarkan musik. Mungkin
bisa di bilang dia akan badmood jika sehari saja tidak mendengarkan musik. Ia
senang menyanyikan lagu apa saja yang bisa dia ingat liriknya, bahkan saat kami
sedang ngobrol di telfon pun terkadang aku harus rela mendengar dua sampai tiga
menit Dirga bernyanyi, mengikuti alunan musik yang selalu di putarnya
dikamarnya. Tapi aku senang mendengarnya, aku senang melihat tingkahnya. Musik
dan Dirga adalah satu, jika mereka sudah bertemu, aku hanya bisa melihat mereka
dari luar. Tapi tidak apa, aku senang melihat Dirga bahagia.
Mai , 2013.
“ sayang, sekolahan kamu tuh.”
Tegurku.” Malam itu kami melewati gedung SMA kami dulu.
Dirga menoleh, dan tersenyum
kecil. “ iya, sekolahan kamu juga kan.” sahutnya.
“ hehehe, iya. Jadi kangen jaman
sekolah.” Ujarku tiba-tiba. “ asik kan, ngumpul lagi sama temen-temen, belajar
lagi, ketemu lagi sama guru-gurunya, pokoknya seru-seruan lagi.”
Dirga hanya diam. Aku menoleh, “
kamu kenapa? Kok mukanya bete?”
“ gak apa-apa. Aku sih gak mau
balik ke jaman sekolah.” Katanya pendek.
“ kenapa?”
“ soalnya, kamu gak perduliin
aku. Kamu gak tau apa-apa soal aku. Kamu bukan milik aku, jadi aku males ah
balik ke jaman sekolah.” Jawabnya. Aku tertawa mendengar jawaban Dirga, agak
kekanak-kanakan menurutku.
“ emangnya kamu tau aku? Waktu
sekolah kamu gak pernah negur aku.” Godaku.
“ siapa bilang?” Dirga menoleh ke
arahku. “ aku merhatiin kamu, aku tau nama panjang kamu, aku tau rambut kamu
gimana, baju seragam sekolah kamu, tempat parkiran biasa kamu, kamu sering ke
kantin mana, kamu duduknya dimana, teman sebangku kamu. Aku tau.” Dirga
mengoceh panjang lebar. Aku terdiam. Dan sedikit bingung.
“ kenapa bisa? Coba kasih tau
aku,” tantangku. Dirga menghentikan mobilnya di depan sebuah taman, aku
mengikutinya keluar dari mobil dan berusaha men-sejajarkan langkahku dengannya.
“ beli kopi susu dulu yuk, aku
pengen ngopi. “ ujarnya. Aku mengangguk dan duduk di sebuah kursi besi di dekat
situ. Menunggu Dirga membeli secangkir kopi susu.
Dirga menghela nafas panjang, ia
duduk di sampingku dan menghirup kopinya.
“ Di, pertanyaanku dijawab dong.”
Protesku.
“ iya , sabar sayang. Kamu gak
sabaran banget nih.” Jawabnya. Dirga memainkan cangkir kopi ditangannya.
“ kamu Meyana Ariyani , kelas IPS 2, temen
sebangku kamu Alila, kalian duduk di depan nomer 2. Kamu sering ke kantin
belakang bareng Ranca, Reb dan Ditya. Rambut kamu panjang berponi, kadang di
iket, kadang di biarin tergerai, tempat parkir kamu biasanya di depan ruang
dewan guru, kamu sering duduk-duduk di depan kelas kamu. Ya kan?” Dirga
menjawab semuanya. Aku sedikit melongo.
“ Dirga, kok kamu ... “
“ hahahaha, iya Mey. Aku
merhatiin kamu. Tapi ya Cuma sekedar itu, dari jauh, liatin kamu. Tanpa ada
maksud sedikit pun untuk mendekat ke kamu. Lucu dan aneh ya? Aku suka kamu,
kamu manis. Meyana Ariyani. Tapi ya, sekedar itu aja.” Dirga tersenyum kecil
menatapku.
“ iya, lucu dan aneh.” Gumamku
pelan. Teringat saat-saat SMA dulu waktu aku mencari tahu soal Dirga, begaimana
rupanya, dan tingkahku yang hanya bisa melihatnya. Dulu , Dirga hanya sebuah
nama untukku, Dirga hanya sosok yang tidak sengaja terlihat oleh mataku. Dan
aku tak pernah menyangka, bahwa suatu saat Dirga akan begitu berarti untukku.
Bukan hanya sekedar nama, bukan hanya sekedar sosok yang tidak sengaja
terlihat. Sekarang dia yang ingin ku lihat, nama nya yang ingin ku ucap.
Dirinya yang ingin ku dekap. Waktu mempermainkan aku dan Dirga. Iya, ini
mungkin sudah di atur sedemikian rupa. Dan aku menikmatinya.
Dirga memeluk bahuku, “ Sayang,
kita jaga semuanya. Untuk tetap menjadi “kita”.”
Aku mengangguk pelan. senyumku
merekah, “ Di, kamu nyangka gak sih bakal begini?”
Dirga tertawa pelan, dan kemudian
menggelengkan kepalanya. “ enggak nyangka sama sekali, tapi aku senang. Dan
bersyukur ketemu kamu lagi akhirnya.”
“ iya. Aku juga senang.”
“ i love youuuuu , i want youuuu,
i need youuu ! “ seru Dirga asal. Aku tertawa terbahak. Dirga Bego, sungutku.
“ kiss kiss hug hug bisa ?” tanya
nya. Aku melirik nya, ia menampakkan wajah lucunya.
“ Gak.” Jawabku pendek.
“ FINE.” Sahut Dirga. Aku menoleh
dan mendapati wajahnya yang cemberut. Aku hanya tertawa melihatnya.
Hari itu, kami menikmati malam kami. Menatap
lampu-lampu kendaraan yang lewat di depan kami, merasakan angin yang berhembus
di kulit kami, di bawah langit malam yang agak tertutup awan, dan menikmati
secangkir kopi susu hangat. Aku tidak perduli bagaimana nanti, yang aku tahu,
aku hanya ingin Dirga yang menemani.
--- tamat----
No comments:
Post a Comment