Wednesday, May 22, 2013

You and me . (part 3.)

Maret, 2013.

Aku pergi menginap di rumah teman dekatku. Saat itu akhir bulan dan aku pergi untuk 4-5 hari. Dirga menghubungi ku sekali-kali, entah hanya menegur ku , atau hanya sekedar mengingatkan ku soal makan. Dan aku hanya mnerespon seadanya, laki-laki yang sedang patah hati adalah hal yang kuhindari. Apalagi dia adalah Dirga, orang yang beberapa bulan terakhir ini cukup membuat perasaanku turun-naik.
Frekuensi Dirga menghubungiku semakin sering. Aku bingung. Apa maunya orang ini? tapi aku mengikuti alurnya, aku membalas setiap pesannya, mengikuti setiap jokesnya, dan suatu malam aku melihat ia memasang namaku di statusnya. APA-APAAN NIH?
Laki-laki yang sedang patah hati, laki-laki yang kuhindari, justru sekarang bisa membuat hatiku sedikit kacau. Ini namanya kemakan omongan sendiri.

April, 2013.

 Aku menatap layar ponselku. Sebuah gambar di kirim Dirga untukku. Isinya sebuah layar laptop lcd yang menampilkan tulisan “ I love you, I want you and I need you.” Aku terdiam. Enggan untuk komentar. Apa ini terlalu cepat ?

Aku kembali ke awal-awal kami mulai akrab, komen-komen singkat dia soal foro-fotoku, atau sekedar pesan-pesan mengingatkan soal makan dan ucapan selamat pagi-malam lainnya, sampai ia menghilang dan kemudian aku menegurnya dan memberinya ceramah singkat soal cinta. Aku bertemu dengannya beberapa kali, mengobrol beberapa hal waktu kami masih sekolah, menghabiskan beberapa malam dengan bercerita satu sama lain lewat telfon, atau hanya sekedar mendengarnya bernyanyi di ujung sana. Aku mengingat semuanya, hingga sekarang, ia mengirimi ku gambar seperti ini.

Aku terdiam.

“ Mey .. “

Aku hanya membaca pesannya. Aku tahu ia berharap jawabanku, dan entah kenapa, aku mengambil ponselku dan mulai menggambar sesuatu di sana. Iya, aku membalas pesan gambarnya, dan ya, aku membalas perasaannya.

April, 2013.

Aku menatap Dirga di sampingku, wajahnya serius. Ia sedang menyetir dan sesekali menagangguk-anggukkan kepalanya mengikuti  nada musik yang sedang kami dengar.

“ Di ... “ tegurku. Dirga menoleh dan tersenyum kepadaku, senyum manisnya yang sempat kukutuk dalam hati saat bulan Agustus tahun lalu.

“ kamu sudah sembuh ?” tanyaku tiba-tiba.

Dirga menatapku heran , ia terdiam cukup lama, kemudian memutuskan untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kami berhenti. Dirga menghadap ke arahku, ia menatapku cukup lama, aku hanya diam balas memandangnya. Apa aku salah bertanya ?

“ sembuh apa ?”

Dirga bego. Sungutku dalam hati.

“ sembuh, kamu tau kan maksud ku apa ?”

“ iya, maksud kamu soal hati ?” tanyanya. Aku mengangguk pelan.

“ iya, udah . kalo belom sembuh, kenapa aku sekarang sama kamu. “ jawabnya.

“ kamu yakin ?”

“ iya, Meyana. Aku yakin. Sebenarnya aku yang ngerasa minder sama kamu, kamu inget kan aku pernah bilang waktu itu sama kamu, kalo aku ngerasa gak pantas untuk kamu?” tanyanya. Aku mengangguk lagi.

“ dan kamu jawab, “ kalo kamu ngerasa gak pantas, aku juga enggak ngearasa pantas buat kamu.” Kamu jawab begitu. Dan aku speechlees denger jawaban kamu, disitu aku mulai yakin kalo aku bisa jadi yang terbaik buat kamu.”

“ iya. Tapikan kamu ...”

“ kenapa Mey? Karena aku kemarin patah hati ? karena aku kemarin sakit hati karena di sia-sia-in? 
Terus kenapa? Apa aku gak boleh cari kebahagiaan aku lagi?”

Aku hanya diam.

“ Meyana. Aku paham kalo kamu ngerasa gak yakin sama aku, waktu nya memang terlihat cepat, tapi dari awal aku sudah suka kamu, dan aku memang sudah tertarik sama kamu, Cuma karena beberapa hal aku terlihat maju mundur, tapi setelahnya aku yakin dan mulai sekarang aku jadikan kamu sebagai tujuanku.”

Aku menoleh menatapnya. Dirga tersenyum menatapku.

“ Meyana, gak apa-apa kan aku jadikan kamu tujuanku?” tanyanya.

Aku menatap ke dalam matanya. Tanpa sadar, aku mengangguk pelan. Dirga mengacak rambutku pelan, dan menggenggam tanganku erat.

Langit sudah memerah, cahaya matahari berwarna  keemasan.

“ langitnya bagus, “ kata Dirga pelan.

Aku tersenyum kecil. Iya lebih bagus karena aku melihatnya bersama kamu. Sahutku dalam hati.

Mai, 2013.

Aku melengos melihat kelakuan Dirga, ia sedang asyik bermain gitar virtual di ponselku. Apa rasanya sih main gitar di hape ? Dirga menyukai musik. Ia senang mendengarkan musik. Mungkin bisa di bilang dia akan badmood jika sehari saja tidak mendengarkan musik. Ia senang menyanyikan lagu apa saja yang bisa dia ingat liriknya, bahkan saat kami sedang ngobrol di telfon pun terkadang aku harus rela mendengar dua sampai tiga menit Dirga bernyanyi, mengikuti alunan musik yang selalu di putarnya dikamarnya. Tapi aku senang mendengarnya, aku senang melihat tingkahnya. Musik dan Dirga adalah satu, jika mereka sudah bertemu, aku hanya bisa melihat mereka dari luar. Tapi tidak apa, aku senang melihat Dirga bahagia.

Mai , 2013.

“ sayang, sekolahan kamu tuh.” Tegurku.” Malam itu kami melewati gedung SMA kami dulu.
Dirga menoleh, dan tersenyum kecil. “ iya, sekolahan kamu juga kan.” sahutnya.

“ hehehe, iya. Jadi kangen jaman sekolah.” Ujarku tiba-tiba. “ asik kan, ngumpul lagi sama temen-temen, belajar lagi, ketemu lagi sama guru-gurunya, pokoknya seru-seruan lagi.”

Dirga hanya diam. Aku menoleh, “ kamu kenapa? Kok mukanya bete?”

“ gak apa-apa. Aku sih gak mau balik ke jaman sekolah.” Katanya pendek.

“ kenapa?”

“ soalnya, kamu gak perduliin aku. Kamu gak tau apa-apa soal aku. Kamu bukan milik aku, jadi aku males ah balik ke jaman sekolah.” Jawabnya. Aku tertawa mendengar jawaban Dirga, agak kekanak-kanakan menurutku.

“ emangnya kamu tau aku? Waktu sekolah kamu gak pernah negur aku.” Godaku.

“ siapa bilang?” Dirga menoleh ke arahku. “ aku merhatiin kamu, aku tau nama panjang kamu, aku tau rambut kamu gimana, baju seragam sekolah kamu, tempat parkiran biasa kamu, kamu sering ke kantin mana, kamu duduknya dimana, teman sebangku kamu. Aku tau.” Dirga mengoceh panjang lebar. Aku terdiam. Dan sedikit bingung.

“ kenapa bisa? Coba kasih tau aku,” tantangku. Dirga menghentikan mobilnya di depan sebuah taman, aku mengikutinya keluar dari mobil dan berusaha men-sejajarkan langkahku dengannya.

“ beli kopi susu dulu yuk, aku pengen ngopi. “ ujarnya. Aku mengangguk dan duduk di sebuah kursi besi di dekat situ. Menunggu Dirga membeli secangkir kopi susu.

Dirga menghela nafas panjang, ia duduk di sampingku dan menghirup kopinya.

“ Di, pertanyaanku dijawab dong.” Protesku.

“ iya , sabar sayang. Kamu gak sabaran banget nih.” Jawabnya. Dirga memainkan cangkir kopi ditangannya.

 “ kamu Meyana Ariyani , kelas IPS 2, temen sebangku kamu Alila, kalian duduk di depan nomer 2. Kamu sering ke kantin belakang bareng Ranca, Reb dan Ditya. Rambut kamu panjang berponi, kadang di iket, kadang di biarin tergerai, tempat parkir kamu biasanya di depan ruang dewan guru, kamu sering duduk-duduk di depan kelas kamu. Ya kan?” Dirga menjawab semuanya. Aku sedikit melongo.

“ Dirga, kok kamu ... “

“ hahahaha, iya Mey. Aku merhatiin kamu. Tapi ya Cuma sekedar itu, dari jauh, liatin kamu. Tanpa ada maksud sedikit pun untuk mendekat ke kamu. Lucu dan aneh ya? Aku suka kamu, kamu manis. Meyana Ariyani. Tapi ya, sekedar itu aja.” Dirga tersenyum kecil menatapku.

“ iya, lucu dan aneh.” Gumamku pelan. Teringat saat-saat SMA dulu waktu aku mencari tahu soal Dirga, begaimana rupanya, dan tingkahku yang hanya bisa melihatnya. Dulu , Dirga hanya sebuah nama untukku, Dirga hanya sosok yang tidak sengaja terlihat oleh mataku. Dan aku tak pernah menyangka, bahwa suatu saat Dirga akan begitu berarti untukku. Bukan hanya sekedar nama, bukan hanya sekedar sosok yang tidak sengaja terlihat. Sekarang dia yang ingin ku lihat, nama nya yang ingin ku ucap. Dirinya yang ingin ku dekap. Waktu mempermainkan aku dan Dirga. Iya, ini mungkin sudah di atur sedemikian rupa. Dan aku menikmatinya.

Dirga memeluk bahuku, “ Sayang, kita jaga semuanya. Untuk tetap menjadi “kita”.”

Aku mengangguk pelan. senyumku merekah, “ Di, kamu nyangka gak sih bakal begini?”

Dirga tertawa pelan, dan kemudian menggelengkan kepalanya. “ enggak nyangka sama sekali, tapi aku senang. Dan bersyukur ketemu kamu lagi akhirnya.”

“ iya. Aku juga senang.”

“ i love youuuuu , i want youuuu, i need youuu ! “ seru Dirga asal. Aku tertawa terbahak. Dirga Bego, sungutku.

“ kiss kiss hug hug bisa ?” tanya nya. Aku melirik nya, ia menampakkan wajah lucunya.

“ Gak.” Jawabku pendek.

“ FINE.” Sahut Dirga. Aku menoleh dan mendapati wajahnya yang cemberut. Aku hanya tertawa melihatnya.

Hari itu,  kami menikmati malam kami. Menatap lampu-lampu kendaraan yang lewat di depan kami, merasakan angin yang berhembus di kulit kami, di bawah langit malam yang agak tertutup awan, dan menikmati secangkir kopi susu hangat. Aku tidak perduli bagaimana nanti, yang aku tahu, aku hanya ingin Dirga yang menemani.




--- tamat----

No comments:

Post a Comment