Oktober, 2007.
“ dia lucu, dan aku suka liat
dia, manis.” Ujar Diena kepadaku sore itu saat kami sedang duduk santai di
teras rumahku. Diena sedang menunggu Leo, teman dekatku yang juga pacarnya. Aku
mengunyah bakso ku, hanya mengangguk-anggukkan kepalaku. Entah aku tidak begitu
perduli dengan cerita Diena soal mantan pacarnya yang dia sayangi banget itu.
Aku baru 2 minggu kenal dengan Diena, dia gadis yang manis, rambutnya hitam
sebahu, dan dia sangat suka bercerita. Bercerita apa saja, dan sekarang dia
sedang menceritakan soal mantannya tanpa merasa bersalah, padahal dia tau aku
dan Leo adalah teman dekat.
“ aku putusan juga sempat down
dan sakit hati, aku sayang banget sih sama dia.” Diena melanjutkan omongannya.
Lagi-lagi aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku, dan kali ini ganti mengunyah
mie baksoku.
“ Dirga itu baik, dan simple. Dia
gak neko-neko deh. Oh ya, aku nyumpah-nyumpahin dia pokoknya waktu itu, habis
aku kesel di putusin.” Diena mengibaskan rambutnya, aku melongo, ya menurut lo?
Emang ada gitu yang seneng di putusin? Kataku dalam hati.
“ kamu kenal sama dia kok, Mey.”
Aku menelan potongan terakhir
bakso ku, “ oyah?” sahutku pendek.
“ iya, dia beda kelas. Kamu IPS 2
ya? Dia itu.. hmmm kalo gak salah IPS 4 deh.”
Hening. Aku memijit-mijit
pelipisku, “ Dien, itu kan kelasnya Leo, bearti mantan kamu itu sekelas sama
Leo yang sekarang jadi pacar kamu?” tanyaku. Diena mengangguk dengan senyum
sumringah.
Tolol . batinku lagi, malah
senyum-senyum sumringah.
“ Iya, aneh ya? Hihihi. Leo tau
kok soal Dirga. Dan dia kalem aja tuh, “
Oh jadi nama cowok yang
dipuja-puja Diena itu Dirga. Dirga , eh Dirga yang mana ya?
“ kamu kenal Dirga gak Mey?
Anaknya manis loh, cakep deh pokoknya. Aku sayang banget deh sama dia, dulu nya
sih. Tapi beneran, dia manisssss banget.”
“ biasanya kalo cowok cakep sih
aku tau, tapi gak pernah denger yang namanya Dirga deh. Anak baru?” tanyaku.
Diena menggeleng. “ dia jarang sih sekolah, dia kan doyan bolos.”
“ sama dong kayak Leo,” sahutku
pendek sambil membereskan mangkok-mangkok bakso di hadapanku, dan mengembalikan
nya ke mamang bakso langgananku.
“ Iya sih, tapi dia lebih sering
lagi. Mey, kamu harus liat orangnya deh, pasti kamu naksir!” teriak Diena dari
teras.
Aku hanya menggeleng-gelengkan
kepalaku heran. Absurd abis nih cewek, gak nyadar apa daritadi nyerocos soal
mantannya di depan temen deket Leo? Err.
“ tuh ada Leo tuh, “ ujarku. Dagu
ku menunjuk ke jalan di depan rumahku. Diena bergegas membereskan barangnya dan mendatangi ku yang sedang
berdiri di depan pagar, sambil memelukku
cepat dan mencium pipi ku.
“ Mey, diem-diem ya soal Dirga.”
Ujarnya. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku asal. Leo berhenti di depanku,
“ udah selesai nge-bakso nya Mey?” tanya nya. Aku mengangguk.
“ Masa sih? Itu baksonya masih ada
di mulut kamu ya? Pipi kamu gendut gitu. “ sontak aku memegang pipiku.
“ OH, bukan. Itu kan memang pipi
kamu begitu ya.” Lanjutnya lagi.
Aku menoyor kepalanya, Diena
tertawa-tawa di belakang Leo.
“ pulang ya, Mey.” Pamitnya.
“ IYA, SANA PULANG LU.” Sahutku judes.
Leo nyengir dan kemudian ia pergi.
Aku membalikkan tubuhku ke rumah,
berjalan pelan sambil memikirkan satu nama. Dirga.
Akhir Bulan Oktober, 2007.
Aku berlari menyusuri jalan masuk
sekolahku, bel sudah berbunyi 10 menit lalu. Sialan, dumelku dalam hati.
Gara-gara harus kembali mengambil tugas Sosiologi yang ketinggalan jadi telat
begini. Aku terengah-engah. Sambil membuka jaket, aku mengintip sedikit ke
koridor depan, persis melewati ruang BK. Lewat BK jam segini adalah musibah,
bisa kena omelan bonus hukuman. Aku jalan mengendap-endap dan sebisa mungkin
terlihat santai, terlihat ibu Ana sedang memeriksa beberapa kertas, dan ia
membelakangi pintu masuknya. Aku menghela nafas lega saat berhasil melewati
ruang BK, meja piket masih kosong. Sekolahan sedikit sepi, semua sudah berada
dikelas masing-masing. Kelasku berada di ujung belokan. Dan sebelum belokan,
aku harus melewati pintu samping ruang dewan guru, dan itu adalah musibah nomer
dua hari ini.
“ Meyana Ariyani Kayantari.”
Terdengar suara berat memanggilku. Langkah ku terhenti, dan aku membalikkan
tubuhku sepelan mungkin.
“ dalam minggu ini kamu sudah
terlambat 3 kali,”
Pak Ibnu berjalan menghampiriku, aku memasang senyum terbaikku.
“ maaf Pak, tadi buku tugasnya
ketinggalan, jadi telat.” Ujarku. Pak Ibnu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ dan kamu jarang ada waktu absen
wali kelas, kamu tahu kan Meya? Jam 7.15 bel sudah berbunyi, dan saat itu guru
masing-masing kelas akan masuk dan mengabsen, 7.30 bel kedua berbunyi, dan itu
tanda kalo pelajaran sudah siap di mulai. Dan ini sudah nyaris 15 menit setelah
bel kedua kamu baru datang dan senyum cengengesan di sini.” Omel pak Ibnu.
“ tapi Pak ... “
“ kamu ini, saya kasih tau begini
masih saja berusaha ngeles, saya selama ini tidak meng-alpa kamu di absen pagi
karena saya tau kamu selalu ada, tapi kali ini sudah ketiga-kalinya kamu
begini,”
Aku menghela nafas pasrah,
menghadapi wali kelas yang lagi sensi adalah kutukan buatku pagi ini.
Pak Ibnu
memandang ke arah belakangku sambil (lagi-lagi) menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ itu teman kamu, semua lagi
ngeliatin kamu.” Ujarnya.
Aku menoleh kebelakang, dan
terlihat kepala-kepala menyembul dari jendela samping kelasku, kepala Ditya,
Ranca dan Reb terlihat paling depan, dan wajah mereka memerah menahan tawa.
Teman sekelasku sedang menontonku dengan gratis.
“ Pak, kasian Meyana pak, lepasin
pak.” Terdengar suara Reb teriak dengan nada yang sok sedih.
Aku memutar kedua
bola mataku, si kampret. Sungutku dalam hati.
Kemudian terdengar suara
cekikikan lagi. Pak Ibnu melihat jam tangannya, dan kemudian beliau menghela
nafasnya, “ Baiklah, Meyana. Silahkan kamu pergi ke kelas kamu sekarang dan
ingat, tidak ada lagi hal seperti ini terjadi, oke?” ujarnya. Aku menganggukan
kepalaku,
“ makasih pak, Pak Ibnu wali
kelas saya yang paling baik!” ujarku. Kemudian aku berlari menuju kelasku.
Aku memelankan langkahku, dan
menatap jejeran pintu kelas di samping kananku, kelas 3 IPS berbentuk L
terbalik, 2 kelas di sisi kiri, 3 kelas
di sebelah kanan.dan kelasku berada di sebelah kiri. Aku melihat pintu kelas
IPS 4, terlihat beberapa cowok sedang asyik duduk di depannya. Leo salah
satunya.
“ Meyana telat yaaaa..... ”
terdengar suara Leo, dan kemudian ia tertawa. aku menjulurkan lidahku dan
mengabaikannya. aku tidak butuh di olok-olok lagi.
“ Telat Mey?” sapa Gusti, anak
kelas IPS 5. Dia bersama beberapa temannya mungkin baru saja kembali dari
kantin belakang.
“ Iya, Gus. Untung gak dapet Ibu
Ana,” jawabku pendek. Gusti tertawa kecil. Aku berjalan melewati bahunya.
“ Dirga! Itu ibu Sandra, kelas
kamu masuk tuh!” suara Gusti terdengar lagi. Dan kali ini aku menoleh dengan
cepat, mencari-cari seseorang yang aku dengar namanya. seorang cowok berambut cepak berlari berbelok
menuju kelas, aku hanya melihat bagian belakangnya, sedikit tinggi dan kurus.
Rambut belakangnya acak-acakan. Dan baju seragam putihnya tidak dimasukkan. Dia
yang namanya Dirga?
Aku sibuk berpikir dan
menerka-nerka, kemudian rambutku ditarik pelan. aku mengaduh. Ditya meletakkan
tangannya di bahuku, “ Mey, liatin siapa?”
Aku menoleh. Ranca dan Reb
mengikuti pandanganku, dan kembali menatapku, menunggu jawabanku.
“ cowok.” Sahutku pendek.
Bola mata ketiga cowok berandal
di depanku berbinar usil, kemudian mereka serentak menanyakan namanya. Aku
menghela nafas dan mengangkat bahu, memutuskan untuk diam dan kemudian
menerobos masuk kelas tanpa perduli ocehan mereka.
September, 2007.
Aku menyedot es melonku habis.
Hari ini sangat panas, dan pelajaran matematika tadi membuatku gerah di kelas.
Aku sedang duduk di depan kelas dengan Alila, teman sebangku ku yang cerewet.
Alila sedang menceritakan rambutnya yang baru saja di luruskan, aku hanya
mengangguk-anggukkan kepalaku tanpa antusias. Alila sering meluruskan rambut,
ini sudah ketiga kali nya dalam beberapa bulan terakhir ia mencoba untuk
meluruskan rambutnya, rambutnya memang panjang dan luruuuuusss sekali. alila
memang tipe cewek yang memperhatikan penampilan di bagian kepalanya. Sedangkan
aku? Aku hanya gadis SMA yang berambut panjang dan berponi, kadang di ikat
tinggi jika hari sedang panas, seperti hari ini contohnya. Aku tidak perduli
dengan keadaan rambutku, yang memang berantakan jika sudah jam-jam akhir
sekolah. Terdengar suara ribut-ribut di koridor sebelah, aku yakin dalam
beberapa detik akan muncul 3 hidung manusia ribut di depanku.
“ Nca, bagi rokoknya!” terdengar
suara serak Reb.
“ beli sendiri! Ini aja tadi
ngemis-in Meyana buat beli sebatang.” Sahut Ranca.
Tuhkan benar dugaanku. Ranca, Reb
dan Ditya melangkah ke kelas.
“ Eh, ada Meyana dan Alila.
Tumben gak ke kantin belakang?” ditya duduk di sampingku, sambil menyampirkan
lengannya di bahuku.
“ males, di belakang ribut. Aku
lagi butuh ketenangan.” Sahutku.
Ranca menoyor kepalaku pelan, “
Gaya mu selangit, Mey. Biasa juga doyan sama yang ribut-ribut.” Aku hanya
nyengir.
Kemudian serombongan cowok lewat
di depan kami, beberapa menyapa Ranca dan Ditya, terdengar celotehan khas cowok.
“ Nca, itu yang lewat tadi anak
kelas berapa sih?” tanyaku. ranca yang sedang asik mengutak-atik hape nya
mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah serombongan cowok tadi.
“ IPS 5 deh kayaknya.” Jawabnya.
“ beberapa IPS 4 deh, “ lanjutnya lagi.
Aku berpikir sebentar, kemudian
entah hantu apa yang merasuki ku, aku berdiri dan melangkah menuju kelas IPS 4.
Koridor kelas 3 sedang ramai,
beberapa duduk di depan kelas sambil berkipas-kipas ria atau hanya sekedar
mengobrol biasa. Aku melangkahkan kaki ku masuk ke kelas IPS 4, catnya berwarna
biru gelap dan lukisan grafitti di dinding belakang terlihat jelas. Kemudian
mataku mencari-cari sosok yang aku kenal, beberapa menyapaku. Aku menghampiri
Die teman sekelasku di kelas dua sedang serius mengerjakan sesuatu di mejanya.
“ Di,”
Die menoleh dan menatapku heran,
“ Mey? Tumben kesini. Kenapa?” tanyanya.
Aku menoleh ke sekeliling, “ Yang
namanya Dirga yang mana sih?” aku berbisik.
Die mengangkat sebelah alisnya,
kemudian ia menoleh ke belakang dan sekeliling kelas.
“ Dirga .... hmmmmm ... “
Aku ikut-ikutan menoleh
sekeliling, seolah-olah tahu manusia seperti apa yang aku cari.
“ Dirga itu sering bolos, Mey.
Kayaknya dia lagi gak sekolah, tadi pagi sih ada. “ jawab Die.
Aku hanya diam dan meringis
kecil.
“ Kenapa emang? Kamu cari-cari
Dirga?”
“
Ganteng gak sih orangnya?” tanyaku. Die terbahak kemudian menoyor
kepalaku pelan,
“ kamu itu ya, kalo cowok ganteng
radarnya cepet. Dasar usil. Gak tau ah, menurut aku Dirga sih biasa aja, putih
doang sih.” Ujarnya.
“ yah, ya udah deh. Aku balik ke
kelas aja kalo gitu, bye Mi.”
Aku keluar dan kembali ke
kelasku. Aku lupa belum selesai mengerjakan essay sejarahku.
September, 2007.
Aku mengibaskan tanganku,
berusaha menghindar dari asap rokok yang dengan santainya menghembus di
depanku. Reb dengan wajah songongnya sedang duduk didepanku, sambil sengaja
menghembuskan asap rokoknya banyak-banyak di hadapanku.
“ Kamu bete ya?” Reb bertanya sok
tau.
“ kamu lagi dapet Mey?” Ranca
yang sedang duduk di sampingku ikut-ikutan sok tau.
“ kamu kangen aku ya Mey?” Ditya
ikut nimbrung dengan pertanyaannya yang gak nyambung.
Aku hanya diam. Punya sahabat
dekat seperti mereka membuatku harus banyak bersabar, segala tingkah absurd dan
menyebalkan pernah ku rasakan dari mereka. Entah dari ketolol-an Reb yang
nyeleneh, atau Ranca yang sok cuek tapi menyebalkan, atau Ditya yang sok manja
dan sok paling ngerasa di sayang. Anehnya selama ini aku tahan-tahan saja
berteman dan nongkrong dengan mereka, dengan segala tingkah konyol dan bonus
asap rokok mereka.
“ Mey, dapet salam dari anak
kelas ips sebelah tuh.” Ujar Ranca sambil menahan tawa.
Aku melirik, Reb dan Ditya
ikut-ikutan tertawa.
“ Siapa?”
“ ganteng dah pokoknya,”
“ kalo kamu bilang gitu, pasti
aslinya gak bagus.” Sahutku pendek. Ditya tertawa keras.
“ ngomong-ngomong, Leo mana ya ?
kok gak keliatan.” Reb menoleh sekeliling kantin.
“ dia sering bolos sekarang. Atau
tanya Die aja tuh, dia kan sekretaris kelas, pegang absen, pasti dia tau Leo
kemana.” Ranca mengarahkan dagunya ke pintu masuk kantin, Die memasuki kantin,
dan tersenyum saat melihatku.
“ Meyanaaaaa..” sapanya nyaring. “ Itu yang kamu cari ada di kelas
tuh tadi, “ ujarnya tiba-tiba. Ekspresi ku berubah. Bahaya kalo Die sampai
ngomongin soal Dirga di depan mahluk-mahluk ini.
“ Oh, iya gitu? Nanti aja deh
dibahas, Ye. Kamu ngapain? Mau beli minum?” tanyaku mengalihkan. Wajah die
terlihat bingung, “ i .. iya.” Jawabnya kemudian.
“ habis itu mau kemana? Balik
kelas ngga? Barengan ya.” Usulku. Die mengangguk, dan kemudian pergi membeli
minumnya.
Aku bisa melihat wajah Ranca,
Ditya dan Reb. Wajah mereka terlihat bingung dan penasaran sekaligus.
“
Mey, kita kan mau bolos pelajaran matematika. Kok kamu balik ke kelas
sih?” Reb mengingatkan ku.
“ kamu kenapa sih, Mey? “
“ aduh, kalian kenapa sih sibuk
bener. Ya aku tetep bolos, Cuma mau ngambil hape aja tadi ketinggalan di laci
kelas. Udah ah, bentar doang ini. jangan kayak kehilangan aku selamanya gitu
deh,” ujarku menggoda. Mereka kemudian mencibirku.
Die muncul di sampingku dan
menggandengku, kami keluar kantin dan berjalan menuju kelasnya.
“ Dirga ada di kelas nih?”
tanyaku. Die mengangguk, “ iya. Udah beberapa hari ini sih ada mulu, Cuma
akunya aja yang lupa ngabarin kamu.”
Aku hanya ber “Oh..” pelan. kami
semakin mendekati kelas, dan aku semakin penasaran bagaimana rupa Dirga.
Die mendadak berhenti. “ Tuh,
yang itu. Cowok yang lagi berdiri di depan meja dekat pintu, di samping Alif, “
die menunjuk ke arah depan pintu. Aku kenal Alif, dia teman sekelasku di kelas
dua.
“ dia ngadep ke sana mulu, gak liat mukanya ah.” Protesku.
Die menarik tanganku, kami
melewati pintu dan saat itu pula Dirga menoleh. Rambut cepak pendek, dan ia
menatapku. Alisnya tebal dan bentuknya sempurna, bulu mata lentik membingkai
kedua matanya, kulitnya putih untuk ukuran cowok, wajahnya baby face. Lucu dan
sangat kekanak-kanakan. Ia menatapku sebentar, dan aku hanya diam. Tak berniat
untuk menyunggingkan sedikit senyum kepadanya.
“ Mey.” Sapa Alif. Aku hanya
mengangguk pelan, dan kemudian melepaskan pegangan Die.
“ Ye, aku balik ya, bentar bel
nih. Makasih ya.” Ucapku.
Die menatapku bingung. Aku
secepat kilat pergi dari kelas itu. Di otakku teringat kata-kata diena soal
betapa imutnya Dirga, dan ia benar. Dirga lucu. Wajahnya seperti anak-anak.
Dan, anehnya setelah melihat wajahnya aku merasa biasa saja. Tidak ada lagi
rasa penasaran seperti kemarin-kemarin. Di benakku dia hanyalah Dirga. Sudah,
begitu saja.
Oktober,
2007.
Aku sedang menghapal materi
ulangan harian bahasa inggris di depan kelas bersama Alila saat Dirga lewat
dengan beberapa teman kelasnya. Iya mengenakan jaket hoodie hitam. Saat itu hari
memang sedang hujan. Aku hanya bisa melihatnya, tanpa ingin untuk menyapanya.
November, 2007.
Diena menelfonku dan curhat soal
Leo yang tidak suka soal dia berkumpul dengan teman-teman cowoknya. Aku hanya
bilang bahwa bukan salah Leo jika Leo cemburu. Dan Diena baru saja cerita bahwa
ia bertemu Dirga tadi malam. Ternyata teman-teman Diena adalah teman-teman
Dirga juga. Dan menurutku sangat wajar jika Leo melarang Diena berkumpul dengan
teman-teman cowoknya.
Desember, 2007.
Sebentar lagi HUT sekolah. Dan
sekarang anak-anak kelas sedang heboh menyaksikan pertandingan futsal di
lapangan. Aku duduk di bawah pohon sambil menyedot es kelapa ku. Ranca, Ditya
dan Reb menghilang entah kemana. Hanya Alila dan beberapa temen cewek sekelasku
di sini. Kemudian saat orang-orang didepanku berteriak kencang (mungkin ada gol
atau sesuatu ) mataku menangkap Dirga. Dirga baru saja keluar dari gerbang
masuk koridor dalam sekolah, ia mengenakan baju olahraga dan menenteng tas
ranselnya. Wajahnya sedikit memerah, dan ia tengah asik ngobrol dengan beberapa
temannya. Hanya itu saja, dan kemudian aku kembali konsen dengan plastik es
kelapaku.
Februari, 2008.
Kami sedang ujian praktek. Dan
hari ini adalah praktek olahraga, setelah senam di Aula, Pak Robert menggiring
kami ke lapangan blok sebelah, kami harus berjalan beberapa ratus meter menuju
kesana. Lapangan bola rumput yang agak sempit dan di kelilingi rumah-rumah
penduduk. Praktek hari ini dilanjutkan dengan berlari keliling lapangan selama
5 kali. Aku benci berlari. Aku benci rasa pegal-pegal di kaki setelahnya. Reb
menggodaku, berkata bahwa aku akan pingsan setelah putaran kedua ku. Ranca
lebih kurang ajar lagi, ia bertaruh lima ribu bahwa setelah setengah putaran
aku akan menyerah, si kampret, sungutku dalam hati. Hanya Ditya yang memberi ku
semangat, Ditya memang pintar mengambil hati.
“ eh itu rumahnya Darwin bukan
sih?” tanya Reb tiba-tiba. Aku menoleh dan melihat ke arah rumah yang ditunjuk
Reb, kulihat Darwin disitu. Dengan beberapa temannya. Darwin adalah teman sekelasku.
“ iya, anak-anak kelas lain
sering bolosnya disitu spotnya enak , deket sekolah.” sahut Alila nimbrung.
Kami mengangguk-angguk.
aku memperhatikan rumahnya,
banyak tanaman di depannya. Dan pandanganku terhenti, disana, kulihat dia.
Dirga. Duduk diam melihat kami atau entah apapun di dekat kami, kulihat ada
sebatang rokok terselip di jari-jari tangan kanannya.
“ itu lagi pada bolos ya?”
tanyaku pelan.
“ kamu belum lari otaknya udah
agak gak beres ya Mey? Ini kan jam istirahat.
Itu mereka emang pada sering nongkrong di situ” Jawab Reb.
Aku menginjak kakinya. “ iye!”
sahutku ketus.
Aku menoleh lagi. Menatap Dirga
dari sini. Entah kapan aku berani menyapanya.
Maret, 2008.
Aku melihat Dirga datang
terlambat. Saat itu sudah jam kedua, dan ia lewat di koridor samping kelasku,
tepat saat aku sedang pindah duduk ke kursi Ditya di belakang. Aku melihatnya
lewat sambil menenteng tasnya. Sendirian.
April , 2008.
Hari-hari ku padat. Sekolah masuk
sampai jam 12, kemudian lanjut try out jam 2-5 sore. Setelah itu, malamnya jam
7 – 9 aku harus bimbingan belajar setiap hari. Dan aku tidak pernah melihat
Dirga lagi, karena aku selalu berdiam di kelas dan menolak semua ajakan Reb,
Ditya dan Ranca ke kantin belakang. Buatku , Dirga hanya Dirga. Hanya ku lihat
jika ia kebetulan lewat saat sedang terlihat, aku tak pernah berniat
mencari-carinya lagi.
Akhir April, 2008.
Ujian Sekolah. Aku di dekatin
oleh teman sekelasku yang bahkan aku baru tau rupanya saat sudah akhir
semester, betapa kurang ajarnya aku sebagai teman. Alila memaki ku saat aku
bertanya yang mana orangnya, dan Alila bilang selama try out cowok itu duduk
persis di sebelah kananku. Aku menyeringai dan hanya bilang kalau aku tidak
memperhatikan siapapun jika ia tidak menegurku terlebih dahulu. Kecuali Dirga,
tentunya. Aku mencari Dirga, sebenarnya. Dan ya, itu tahun lalu.
--- bersambung ----