Wednesday, May 22, 2013

You and me . (part 2)


Juni, 2008.

Alhamdullilah. Aku lulus. Dan semua angkatan ku pun lulus (tidak heran). Kami merayakan kelulusan dengan mencoret-coret baju. Awalnya aku mewanti-wanti untuk tidak mem-pilox baju seragam putihku, aku melotot setiap Ranca atau Ditya mendekatiku dengan botol pilox mereka. Kemudian , entah kenapa tiba-tiba Reb menyemprot cairan berwarna merah itu di belakang kepalaku, rambutku menjadi merah, dan setelah itu selesailah baju putih bersihku, di semprot habis-habisan. Cairannya terasa panas , dan aku benci itu. tapi setelahnya, aku hanya tertawa-tawa. Ranca, Ditya dan Reb menghambur entah kemana. Kemudian aku ingat Leo memelukku singkat, Alila menangis tertahan di depanku, Die memelukku kencang karena ia akan melanjutkan kuliah di kota lain. Aku berdiri sambil mengunyah bakso kacang favoritku, Alila di sampingku sibuk menelfon ibunya dan mengabarkan bahwa ia lulus. aku menghela nafas. Menyaksikan semua angkatan kami berkumpul di halaman depan sekolah, beberapa cewek berpelukan sambil mengelap air mata, beberapa sibuk mengambil foto, aku ikut dengan siapapun yang menarikku untuk berfoto, dan menyodorkan punggung ku untuk siapapun yang ingin menandatangani seragamku. Saat itu, aku tidak tahu keberadaan Dirga. Aku sibuk dengan momen kelulusanku.  SMA ku sudah selesai. Selesai pula Dirga buatku.

Agustus, 2011.

3 tahun berlalu. Aku sudah lupa soal Dirga. Kemudian , malam itu ku lihat recent updates di hapeku, seorang teman sekolahku mengganti display picture nya, aku membuka nya, dan kulihat wajah itu lagi. Dirga , sedang tersenyum manis dengan hanya  mengenakan  kaos singlet  berwarna hitam, di sampingnya Febri, teman sekelasku. Aku melihatnya lagi.

Desember, 2011.

Febri mengirim sebuah broadcast untukku, aku membuka profilnya dan di sana, Dirga. Sedang berdiri ditengah-tengah 2 cewek, salah satunya Febri. Aku memberanikan diri untuk bertanya, kemudian jari-jariku memencet keypad.

“ Feb, itu Dirga kan?”

“ iya, ini Dirga, Mey. Kenapa ?”

“ gak apa-apa. Eh kamu kuliah di bandung kan?” tanyaku. kemudian LED hapeku berkedip. Balasan dari Febri.

“ iya nih, aku kuliah di Bandung. Kamu apakabar Mey?”

“ Oh, baik. Jadi , Dirga di Bandung juga?”

“ iya. Satu kampus, tapi beda angkatan :D .”

Aku menatap layar hapeku. Jadi, Dirga di Bandung? 

Januari 2012.

­Aku selesai praktek mengajar, kepalaku mumet dan pusing. Kemudian kepusingan ku bertambah saat hapeku hilang. konspirasi macam apa ini? oh well, mungkin ini tidak ada hubungannya dengan konspirasi  apapun, aku hanya melebih-lebihkan semuanya.
Kemudian ibuku membelikan ku hape baru, hadiah dari nilai A yang ku dapat dari ujian mengajarku. Aku meminta kontak sekolahku ke beberapa temanku, dan aku menemukan nama Dirga di sana. Aku memutuskan untuk meng-invite nya, dan beberapa menit kemudian kontakku bertambah satu. Dirga. Aku membuka profilnya, dan memutuskan untuk mengabaikannya. Toh selama ini aku tak pernah bertegur sapa dengannya.

Maret , 2012.

Beberapa kali nama Dirga muncul di notifikasi bbmku, ia hanya mengirim broadcast nggak penting. Dan terkadang hanya simbol titik. Aku mengabaikannya. Apa yang bisa ku sapa dari sana?

Awal Agustus, 2012.

Malam itu aku memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe, menyaksikan adik sepupuku yang kebetulan sedang tampil. Aku datang dengan adik-adikku malam itu. mengambil tempat duduk di depan, dan saat itulah aku melihat Darwin, teman sekelasku yang beberapa hari ini sering mengirimi ku bbm singkat gak jelas.

“ Meyana?” sapanya. Darwin menegurku. Ia bersama teman sekelasku yang lain.

“ astaga , Darwin? Hahahahaha. Kok bisa disini kamu nya?” tanyaku.

“ Gak tau, apa kita jodoh?” godanya. Aku memutar kedua bola mataku.

“ terserah kamu deh,” sahutku. Darwin menarikku dan mengajakku duduk di mejanya, aku bernostalgia beberapa saat dengannya, bertanya kabar dan kegiatan selama ini. Malam itu, aku sama sekali tak menyangka bisa bertemu dengan teman sekolahku di tempat seperti itu.

Aku asyik ngobrol sampai tidak sadar bahwa ada beberapa orang lagi yang bergabung malam itu. Dan saat adik sepupuku tampil, aku menoleh ke arah samping, dan saat itulah aku sadar. Tatapan ku terhenti di dia. Dia itu Dirga, duduk diam tepat di kursi sebelahku. Otakku berputar keras, mengingatnya. Mengingat setiap momen saat-saat melihatnya tanpa sengaja.  Dan tanpa berpikir panjang, entah apa yang membuatku begitu komunikatif malam itu, aku menyapanya. Untuk pertama kalinya.

“ Dirga ya?” tanyaku basa-basi. Padahal aku tahu jelas itu Dirga. Pertanyaan yang agak bodoh, menurutku, Dirga mengangguk, dan ia tersenyum. Wajahnya berubah. Rambutnya sedikit gondrong, ia sedikit terlihat dewasa, badannya berisi, tidak kurus lagi seperti saat sekolah. Tapi matanya masih sama, alisnya, dan bulu matanya, ia mengenakan kaos hitam.  Dan senyumnya manis. Ingin rasanya aku menggetok kepalaku sendiri, berani-beraninya aku berpikir soal senyum Dirga.

“ udah balik, Di? Kemaren di Bandung kan?” tanyaku sok akrab.

“ iya nih, udah kelar kuliahnya. Kamu ? udah selesai kuliahnya ?”

Aku meringis, aku benci ditanya soal kuliah. “ belom, Di. Hehehe .”

Dan hanya itu.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku bertemu lagi dengan Dirga, dan untuk pertama kalinya aku menegurnya selama aku tahu namanya. Kemudian aku kembali ke mejaku dan mendapati pacarku (saat itu) datang dan membawa beberapa tangkai bunga untukku. Demi apapun, aku rela menjadi kecil dan masuk ke gelas milkshake vanilla ku saat itu. hidupku seperti FTV. Darwin dan mungkin Dirga menertawai kejadian itu. Malam yang aneh. Tapi aku sedikit senang, bisa bertemu Dirga lagi dan menyapanya.

Bulan Puasa, 2012.

Ada acara buka bareng puasa sekolah ku. dan aku memutuskan untuk hadir. Tidak ada Dirga di sana. Aku mencarinya, tapi hanya sekedar ingin tahu bagaimana dia.  Tapi karena waktu itu ramai dan banyak teman lama, aku jadi lupa bahwa aku “pernah” mencarinya. Dirga, kamu hanya lewat di kepalaku, tapi nyaris tidak pernah bertahan lama di dalamnya.

Lebaran , 2012.

Aku mengirim bbm singkat idul fitri buat Dirga. Dan ia membalasnya. Dengan emot senyum di akhir kata-katanya. Beberapa detik aku menatap layar ponselku, dan kemudian memutuskan untuk memilih opsi end chat dan menghapus chat Dirga. Entah lah, aku berharap ia akan membalas lebih dari hanya sekedar kata-kata “ Iya, Meyana. Maaf lahir batin juga J . “ ERRR.

November, 2012.

“ lucu. “ dirga menyapaku via bbm pas setelah aku mengganti display picture ku.
Dan aku hanya membalas, “ iya, terimakasih. J “ . See? Aku pun bisa mengirim emot senyum seperti itu.

November, 2012.

Aku sedang asyik chatting malam itu, dan tiba-tiba nama Dirga muncul di deretan daftar chatku.
“ udah cocok jadi Ibu, “ sapanya saat itu. memang, malam itu aku memasang fotoku yang sedang menggendong keponakanku yang berumur 15 bulan.

Iseng aku membalas,  “ iya, kamu bapaknya ya?” . aku nyaris menyesal saat membalas seperti itu, aku hanya berharap bahwa Dirga punya selera humor seperti ku.

“ bisa, tapi kamu lulus kuliah dulu ya. “

Jantungku mencelos. Bukan , bukan karena geer atau apa, tapi mendadak aku teringat skripsi ku.
“ Dirga, kamu ngingetin aku aja L . “

“ gak apa-apa, biar kamu ter-motivasi J . “

“ oke, makasih ya Dirga. “ balasku. Kemudian Dirga tertawa. untuk pertama kalinya aku chatting dan feedback lumayan dari Dirga.

Desember,  2012.

Aku mengecek kontakku, dan berhenti di nama Dirga. Membuka profilnya dan melihat fotonya sedang bersama seorang anak kecil.

“ Udah cocok jadi Bapak ya.” Iseng aku mengiriminya pesan seperti itu, membalas jokesnya.

“ iya , kamu mama nya ya?” balasnya. Aku terbahak, dia masih ingat chat kami dulu.

“ bisaaaa, bisaaaaa. Yaudah yuk ke KUA.”

Aku menggetok kepalaku sendiri saat membaca balasanku yang agak flirting.

“ Iya ayuk. Eh tapi kamu lulus kuliah dulu deh baru kita ke KUA, “ ujarnya. Aku tertawa lagi, malam itu, chatting kami seperti deja vu.

Januari , 2013.

Tahun baru sudah lewat. Dan aku di sibukkan oleh skripsi ku, revisi yang banyak dan mendapatkan dosen yang super perfeksionis adalah kesialan awal di tahun 2013 buatku. Malam itu, aku berbaring dengan headset menyumpal kedua telingaku. Breakeven dari The Script menjadi pengantar tidurku. LED ku berkedip, aku membuka chat ku dan membaca pesan dari Dirga.

“ kok belom tidur ?”

Hanya begitu isinya. Kemudian aku membalasnya. Setelah berbasa-basi sedikit Dirga mengirimi ku sebuah lagu.

“ kirimin lagu favorit kamu dong, “ lanjutnya. Aku membaca judul lagu yang di kirimnya. Chasing Cars dari Snow Patrol. Tanpa pikir panjang aku pun mengirimnya The Script. Entah, malam itu obrolan kami panjang dan itu pertama kalinya ia berbicara panjang lebar denganku. Dan entah kenapa, aku merasakan hal yang sedikit aneh di hatiku untuk Dirga. Tapi aku mengingatkan pada diriku sendirii, aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak dengannya.

Februari, 2013.

Dirga sering mengirimi ku pesan-pesan pendek, mengingatkan ku untuk makan, mengucapkan selamat pagi dan hal-hal sepele lainnya. Kami semakin sering ngobrol, dan kemudian di akhir bulan Februari ia seperti hilang, dan saat itu ( aku dekat dengan beberapa orang) jadi aku tidak mencari-carinya. Hingga suatu sore, aku melihat update- dari kontaknya dan melihat display pic nya bersama seorang cewek, dan aku tahu itu adalah pacarnya. Kemudian entah kenapa aku tertawa saat melihatnya, dan di pikiran ku hanya,

 “ oh, jadi gini rasanya di php-in?” .

Awal Maret, 2013.

Aku melihat postingan twitter Dirga, dan aku langsung tahu bahwa dia sedang bermasalah dengan pacarnya. Entah kenapa, aku lagi-lagi tertawa melihat tingkahnya. Menampakkan masalah di media sosial yang bisa di lihat banyak orang. Dia sedikit kekanak-kanakan, tapi kita akan seperti itu juga bukan ? jika berkata soal hati, apa logika kita masih bisa bertindak? Tidak gampang untuk menyesuaikan keduanya, menyeimbangkan hati dan logika. Dan kemudian aku pun paham, Dirga pernah cerita soal hubungannya yang sudah lama, dan disitu lah aku bisa melihat bahwa Dirga sedang berjuang untuk sesuatu yang pernah di bangunnya. Ah, Dirga. Kamu itu lucu dan menarik, kenapa bisa jadi cowok yang melankolis begini sih? Dumelku dalam hati.

Maret, 2013.

Aku membuka kontak Dirga, kemudian melihat statusnya sedang mendengarkan lagu Payung Teduh, aku suka lagunya. Tanpa pikir panjang aku mengiriminya bbm.

“ Bagi lagunya dong, di. Please.”

Beberapa detik kemudian simbol D berubah menjadi R, dan Dirga membalas tak lama kemudian.

“ gak ah.”

Buset, pelit amat sih nih cowok. Lagi galau sempet-sempetnya usilin orang.

“ kenapa ? L “ tanyaku saat itu.

“ entar gak terkirim, bentar lagi aku take off. Ni aku di bandara. “

“ emang kamu mau kemana?”

“ pulang ke sana. “ jawabnya. Aku diam, kemudian aku sadar dia sedang tidak mood untuk ngobrol. Ku abaikan pesan balasannya.

Aku meng-scroll timeline ku lagi, dan membaca postingan Dirga yang cukup membuatku tertawa kencang di kamar sendirian. Ini cowok, pride nya harus di selamatkan.

“ Di, kamu jangan galau-galau gitu dong. Apaan sih cowok kok begitu?” begitu pesan yang aku kirim.

“ sakit, Mey.” Balasnya.

Senyumku mendadak hilang. Begitu berarti nya kah cewek itu buat Dirga?

“ iya, tapi yakin aja semua ini terbaik buat kamu. Makanya kalo cinta jangan berlebihan. Lagian , kayak kehilangan yang gimanaaaa gitu, masih banyak yang sayang dan perduli sama kamu kok.” Komentarku. Pesan ku terkirim. Aku terdiam sejenak.

“ Kamu sudah berjuang belum?” tanyaku mendadak.

“ kamu kayak bapakku aja deh ngomong begitu. Berjuang ? udah. Tapi dia gak tau-tau.” Jawabnya polos.

Aku tertawa lagi. Luar biasa Dirga ini, galau bisa membuatnya begitu polos seperti anak kecil.

“ aku udah janjian sama bapak kamu :D,”

“ yaudah, kalo dia gak perduli, lepasin dia. Buat apa kamu berjuang untuk orang yang gak perduli sama kamu?” tanyaku retoris.

“ iya, aku tahu. Aku udah berhenti perjuangin dia kok. Aku mau fokus ke masa depan sekarang.

 Makasih ya Mey.” Balasnya.

“ Sama-sama Di,” jawabku.

Saat itu, aku hanya bisa berharap bahwa Dirga akan baik-baik saja. Dan kali itu, aku memutuskan untuk mengabaikan perasaan ku yang “sempat” untuknya.



--- bersambung -----

No comments:

Post a Comment