Juni, 2008.
Alhamdullilah. Aku lulus. Dan
semua angkatan ku pun lulus (tidak heran). Kami merayakan kelulusan dengan
mencoret-coret baju. Awalnya aku mewanti-wanti untuk tidak mem-pilox baju
seragam putihku, aku melotot setiap Ranca atau Ditya mendekatiku dengan botol
pilox mereka. Kemudian , entah kenapa tiba-tiba Reb menyemprot cairan berwarna
merah itu di belakang kepalaku, rambutku menjadi merah, dan setelah itu
selesailah baju putih bersihku, di semprot habis-habisan. Cairannya terasa
panas , dan aku benci itu. tapi setelahnya, aku hanya tertawa-tawa. Ranca,
Ditya dan Reb menghambur entah kemana. Kemudian aku ingat Leo memelukku
singkat, Alila menangis tertahan di depanku, Die memelukku kencang karena ia
akan melanjutkan kuliah di kota lain. Aku berdiri sambil mengunyah bakso kacang
favoritku, Alila di sampingku sibuk menelfon ibunya dan mengabarkan bahwa ia
lulus. aku menghela nafas. Menyaksikan semua angkatan kami berkumpul di halaman
depan sekolah, beberapa cewek berpelukan sambil mengelap air mata, beberapa
sibuk mengambil foto, aku ikut dengan siapapun yang menarikku untuk berfoto,
dan menyodorkan punggung ku untuk siapapun yang ingin menandatangani seragamku.
Saat itu, aku tidak tahu keberadaan Dirga. Aku sibuk dengan momen
kelulusanku. SMA ku sudah selesai.
Selesai pula Dirga buatku.
Agustus, 2011.
3 tahun berlalu. Aku sudah lupa
soal Dirga. Kemudian , malam itu ku lihat recent updates di hapeku, seorang
teman sekolahku mengganti display picture nya, aku membuka nya, dan kulihat
wajah itu lagi. Dirga , sedang tersenyum manis dengan hanya mengenakan
kaos singlet berwarna hitam, di
sampingnya Febri, teman sekelasku. Aku melihatnya lagi.
Desember, 2011.
Febri mengirim sebuah broadcast
untukku, aku membuka profilnya dan di sana, Dirga. Sedang berdiri
ditengah-tengah 2 cewek, salah satunya Febri. Aku memberanikan diri untuk
bertanya, kemudian jari-jariku memencet keypad.
“ Feb, itu Dirga kan?”
“ iya, ini Dirga, Mey. Kenapa ?”
“ gak apa-apa. Eh kamu kuliah di
bandung kan?” tanyaku. kemudian LED hapeku berkedip. Balasan dari Febri.
“ iya nih, aku kuliah di Bandung.
Kamu apakabar Mey?”
“ Oh, baik. Jadi , Dirga di
Bandung juga?”
“ iya. Satu kampus, tapi beda
angkatan :D .”
Aku menatap layar hapeku. Jadi,
Dirga di Bandung?
Januari 2012.
Aku selesai praktek mengajar, kepalaku mumet dan pusing. Kemudian
kepusingan ku bertambah saat hapeku hilang. konspirasi macam apa ini? oh well,
mungkin ini tidak ada hubungannya dengan konspirasi apapun, aku hanya melebih-lebihkan semuanya.
Kemudian ibuku membelikan ku hape
baru, hadiah dari nilai A yang ku dapat dari ujian mengajarku. Aku meminta
kontak sekolahku ke beberapa temanku, dan aku menemukan nama Dirga di sana. Aku
memutuskan untuk meng-invite nya, dan beberapa menit kemudian kontakku
bertambah satu. Dirga. Aku membuka profilnya, dan memutuskan untuk
mengabaikannya. Toh selama ini aku tak pernah bertegur sapa dengannya.
Maret , 2012.
Beberapa kali nama Dirga muncul
di notifikasi bbmku, ia hanya mengirim broadcast nggak penting. Dan terkadang
hanya simbol titik. Aku mengabaikannya. Apa yang bisa ku sapa dari sana?
Awal Agustus, 2012.
Malam itu aku memutuskan untuk
pergi ke sebuah kafe, menyaksikan adik sepupuku yang kebetulan sedang tampil.
Aku datang dengan adik-adikku malam itu. mengambil tempat duduk di depan, dan
saat itulah aku melihat Darwin, teman sekelasku yang beberapa hari ini sering
mengirimi ku bbm singkat gak jelas.
“ Meyana?” sapanya. Darwin
menegurku. Ia bersama teman sekelasku yang lain.
“ astaga , Darwin? Hahahahaha.
Kok bisa disini kamu nya?” tanyaku.
“ Gak tau, apa kita jodoh?”
godanya. Aku memutar kedua bola mataku.
“ terserah kamu deh,” sahutku.
Darwin menarikku dan mengajakku duduk di mejanya, aku bernostalgia beberapa
saat dengannya, bertanya kabar dan kegiatan selama ini. Malam itu, aku sama
sekali tak menyangka bisa bertemu dengan teman sekolahku di tempat seperti itu.
Aku asyik ngobrol sampai tidak
sadar bahwa ada beberapa orang lagi yang bergabung malam itu. Dan saat adik
sepupuku tampil, aku menoleh ke arah samping, dan saat itulah aku sadar.
Tatapan ku terhenti di dia. Dia itu Dirga, duduk diam tepat di kursi sebelahku.
Otakku berputar keras, mengingatnya. Mengingat setiap momen saat-saat
melihatnya tanpa sengaja. Dan tanpa
berpikir panjang, entah apa yang membuatku begitu komunikatif malam itu, aku
menyapanya. Untuk pertama kalinya.
“ Dirga ya?” tanyaku basa-basi.
Padahal aku tahu jelas itu Dirga. Pertanyaan yang agak bodoh, menurutku, Dirga
mengangguk, dan ia tersenyum. Wajahnya berubah. Rambutnya sedikit gondrong, ia
sedikit terlihat dewasa, badannya berisi, tidak kurus lagi seperti saat
sekolah. Tapi matanya masih sama, alisnya, dan bulu matanya, ia mengenakan kaos
hitam. Dan senyumnya manis. Ingin
rasanya aku menggetok kepalaku sendiri, berani-beraninya aku berpikir soal
senyum Dirga.
“ udah balik, Di? Kemaren di
Bandung kan?” tanyaku sok akrab.
“ iya nih, udah kelar kuliahnya.
Kamu ? udah selesai kuliahnya ?”
Aku meringis, aku benci ditanya
soal kuliah. “ belom, Di. Hehehe .”
Dan hanya itu.
Malam itu, untuk pertama kalinya
aku bertemu lagi dengan Dirga, dan untuk pertama kalinya aku menegurnya selama
aku tahu namanya. Kemudian aku kembali ke mejaku dan mendapati pacarku (saat
itu) datang dan membawa beberapa tangkai bunga untukku. Demi apapun, aku rela
menjadi kecil dan masuk ke gelas milkshake vanilla ku saat itu. hidupku seperti
FTV. Darwin dan mungkin Dirga menertawai kejadian itu. Malam yang aneh. Tapi
aku sedikit senang, bisa bertemu Dirga lagi dan menyapanya.
Bulan Puasa, 2012.
Ada acara buka bareng puasa
sekolah ku. dan aku memutuskan untuk hadir. Tidak ada Dirga di sana. Aku
mencarinya, tapi hanya sekedar ingin tahu bagaimana dia. Tapi karena waktu itu ramai dan banyak teman
lama, aku jadi lupa bahwa aku “pernah” mencarinya. Dirga, kamu hanya lewat di
kepalaku, tapi nyaris tidak pernah bertahan lama di dalamnya.
Lebaran , 2012.
Aku mengirim bbm singkat idul
fitri buat Dirga. Dan ia membalasnya. Dengan emot senyum di akhir kata-katanya.
Beberapa detik aku menatap layar ponselku, dan kemudian memutuskan untuk
memilih opsi end chat dan menghapus chat Dirga. Entah lah, aku berharap ia akan
membalas lebih dari hanya sekedar kata-kata “ Iya, Meyana. Maaf lahir batin
juga J .
“ ERRR.
November, 2012.
“ lucu. “ dirga menyapaku via bbm
pas setelah aku mengganti display picture ku.
Dan aku hanya membalas, “ iya,
terimakasih. J “
. See? Aku pun bisa mengirim emot senyum seperti itu.
November, 2012.
Aku sedang asyik chatting malam
itu, dan tiba-tiba nama Dirga muncul di deretan daftar chatku.
“ udah cocok jadi Ibu, “ sapanya
saat itu. memang, malam itu aku memasang fotoku yang sedang menggendong
keponakanku yang berumur 15 bulan.
Iseng aku membalas, “ iya, kamu bapaknya ya?” . aku nyaris
menyesal saat membalas seperti itu, aku hanya berharap bahwa Dirga punya selera
humor seperti ku.
“ bisa, tapi kamu lulus kuliah
dulu ya. “
Jantungku mencelos. Bukan , bukan
karena geer atau apa, tapi mendadak aku teringat skripsi ku.
“ Dirga, kamu ngingetin aku aja L . “
“ gak apa-apa, biar kamu
ter-motivasi J .
“
“ oke, makasih ya Dirga. “
balasku. Kemudian Dirga tertawa. untuk pertama kalinya aku chatting dan
feedback lumayan dari Dirga.
Desember, 2012.
Aku mengecek kontakku, dan
berhenti di nama Dirga. Membuka profilnya dan melihat fotonya sedang bersama
seorang anak kecil.
“ Udah cocok jadi Bapak ya.”
Iseng aku mengiriminya pesan seperti itu, membalas jokesnya.
“ iya , kamu mama nya ya?”
balasnya. Aku terbahak, dia masih ingat chat kami dulu.
“ bisaaaa, bisaaaaa. Yaudah yuk
ke KUA.”
Aku menggetok kepalaku sendiri
saat membaca balasanku yang agak flirting.
“ Iya ayuk. Eh tapi kamu lulus
kuliah dulu deh baru kita ke KUA, “ ujarnya. Aku tertawa lagi, malam itu,
chatting kami seperti deja vu.
Januari , 2013.
Tahun baru sudah lewat. Dan aku
di sibukkan oleh skripsi ku, revisi yang banyak dan mendapatkan dosen yang
super perfeksionis adalah kesialan awal di tahun 2013 buatku. Malam itu, aku
berbaring dengan headset menyumpal kedua telingaku. Breakeven dari The Script
menjadi pengantar tidurku. LED ku berkedip, aku membuka chat ku dan membaca
pesan dari Dirga.
“ kok belom tidur ?”
Hanya begitu isinya. Kemudian aku
membalasnya. Setelah berbasa-basi sedikit Dirga mengirimi ku sebuah lagu.
“ kirimin lagu favorit kamu dong,
“ lanjutnya. Aku membaca judul lagu yang di kirimnya. Chasing Cars dari Snow
Patrol. Tanpa pikir panjang aku pun mengirimnya The Script. Entah, malam itu
obrolan kami panjang dan itu pertama kalinya ia berbicara panjang lebar
denganku. Dan entah kenapa, aku merasakan hal yang sedikit aneh di hatiku untuk
Dirga. Tapi aku mengingatkan pada diriku sendirii, aku tidak boleh berpikir
yang tidak-tidak dengannya.
Februari, 2013.
Dirga sering mengirimi ku
pesan-pesan pendek, mengingatkan ku untuk makan, mengucapkan selamat pagi dan
hal-hal sepele lainnya. Kami semakin sering ngobrol, dan kemudian di akhir
bulan Februari ia seperti hilang, dan saat itu ( aku dekat dengan beberapa
orang) jadi aku tidak mencari-carinya. Hingga suatu sore, aku melihat update-
dari kontaknya dan melihat display pic nya bersama seorang cewek, dan aku tahu
itu adalah pacarnya. Kemudian entah kenapa aku tertawa saat melihatnya, dan di
pikiran ku hanya,
“ oh, jadi gini rasanya di php-in?” .
Awal Maret, 2013.
Aku melihat postingan twitter
Dirga, dan aku langsung tahu bahwa dia sedang bermasalah dengan pacarnya. Entah
kenapa, aku lagi-lagi tertawa melihat tingkahnya. Menampakkan masalah di media
sosial yang bisa di lihat banyak orang. Dia sedikit kekanak-kanakan, tapi kita
akan seperti itu juga bukan ? jika berkata soal hati, apa logika kita masih
bisa bertindak? Tidak gampang untuk menyesuaikan keduanya, menyeimbangkan hati
dan logika. Dan kemudian aku pun paham, Dirga pernah cerita soal hubungannya
yang sudah lama, dan disitu lah aku bisa melihat bahwa Dirga sedang berjuang
untuk sesuatu yang pernah di bangunnya. Ah, Dirga. Kamu itu lucu dan menarik,
kenapa bisa jadi cowok yang melankolis begini sih? Dumelku dalam hati.
Maret, 2013.
Aku membuka kontak Dirga,
kemudian melihat statusnya sedang mendengarkan lagu Payung Teduh, aku suka
lagunya. Tanpa pikir panjang aku mengiriminya bbm.
“ Bagi lagunya dong, di. Please.”
Beberapa detik kemudian simbol D
berubah menjadi R, dan Dirga membalas tak lama kemudian.
“ gak ah.”
Buset, pelit amat sih nih cowok.
Lagi galau sempet-sempetnya usilin orang.
“ kenapa ? L “ tanyaku saat itu.
“ entar gak terkirim, bentar lagi
aku take off. Ni aku di bandara. “
“ emang kamu mau kemana?”
“ pulang ke sana. “ jawabnya. Aku
diam, kemudian aku sadar dia sedang tidak mood untuk ngobrol. Ku abaikan pesan
balasannya.
Aku meng-scroll timeline ku lagi,
dan membaca postingan Dirga yang cukup membuatku tertawa kencang di kamar
sendirian. Ini cowok, pride nya harus di selamatkan.
“ Di, kamu jangan galau-galau
gitu dong. Apaan sih cowok kok begitu?” begitu pesan yang aku kirim.
“ sakit, Mey.” Balasnya.
Senyumku mendadak hilang. Begitu
berarti nya kah cewek itu buat Dirga?
“ iya, tapi yakin aja semua ini
terbaik buat kamu. Makanya kalo cinta jangan berlebihan. Lagian , kayak
kehilangan yang gimanaaaa gitu, masih banyak yang sayang dan perduli sama kamu
kok.” Komentarku. Pesan ku terkirim. Aku terdiam sejenak.
“ Kamu sudah berjuang belum?”
tanyaku mendadak.
“ kamu kayak bapakku aja deh
ngomong begitu. Berjuang ? udah. Tapi dia gak tau-tau.” Jawabnya polos.
Aku tertawa lagi. Luar biasa
Dirga ini, galau bisa membuatnya begitu polos seperti anak kecil.
“ aku udah janjian sama bapak
kamu :D,”
“ yaudah, kalo dia gak perduli,
lepasin dia. Buat apa kamu berjuang untuk orang yang gak perduli sama kamu?”
tanyaku retoris.
“ iya, aku tahu. Aku udah
berhenti perjuangin dia kok. Aku mau fokus ke masa depan sekarang.
Makasih ya
Mey.” Balasnya.
“ Sama-sama Di,” jawabku.
Saat itu, aku hanya bisa berharap
bahwa Dirga akan baik-baik saja. Dan kali itu, aku memutuskan untuk mengabaikan
perasaan ku yang “sempat” untuknya.
--- bersambung -----
--- bersambung -----
No comments:
Post a Comment