Kita
sering bertemu, tapi tak pernah saling menyapa. Kita tahu nama, tapi tak pernah
saling tersenyum. Kamu hanya sebuah kilasan untukku, begitu pun aku buatmu. Apa
yang bisa kita harapkan dari itu semua? Dari semua saling ketidakperdulian
kita? Tidak ada. Dan lihat, waktu mengubah semuanya. Aku
pernah berkata “ Orang yang dulu nya hanya lewat di depan kita tanpa kita
sadari, suatu saat bisa menjadi orang yang berarti untuk kita. “ Dan, iya. Aku
mengakuinya.
Sebentar.
Apa terlalu cepat aku mengatakan ini semua? Seperti baru kemarin aku melihat
kamu bersedih karena nya, seperti baru kemarin aku menegurmu untuk tidak perlu menghiraukannya. Ah, waktu, begitu
cepat ia mengubah segalanya..
Ibarat
anak kecil yang menerima permen dari orang asing yang tak dikenalnya, ragu dan
takut untuk menerimanya, bahkan untuk memakannya, seperti itulah kamu buatku.
Asing. Hey , tapi aku ingin kamu .
Apa aku pernah cerita? Bahwa aku dulu
(pernah) jatuh cinta? Dan saat aku merasakan kecewa, aku memutuskan untuk tidak
akan pernah terjatuh lagi. Iya, aku pernah berkata pada diriku sendiri bahwa
aku harus menyayangi diriku dengan tidak membiarkan orang lain menyakiti ku.
dan itu berhasil, aku pernah merasakan berpisah tanpa harus kecewa, aku pernah
merasakan berpisah tanpa meneteskan setitik pun airmata. Aku bisa. Aku bisa
bertahan menyayangi diriku sendiri, dengan tidak pernah jatuh lagi. Dan lagi,
saat kamu datang, aku sedikit ragu dan takut. Tapi melihatmu, aku merasa bahwa
aku bisa menyembuhkan mu, membantu mu berdiri lagi, membuat kamu tertawa lagi,
dan (mungkin) bisa menjadi salah satu alasan kamu tersenyum di salah satu hari.
Apa aku terlalu percaya diri? Mungkin. Tapi tidak apa, aku hanya orang yang
ingin melihat kamu bahagia. Tidak salah, kan?
Aku
hanya orang yang ingin kamu tahu bahwa semuanya akan bisa terlewati, semua yang
menyakitkan akan bisa terlupakan. Mungkin kita akan sedikit bermusuhan dengan
kenangan, tapi mereka hanya kenangan, kenangan tidak untuk di ulang. Mereka
adanya di belakang, tidak mengikuti atau sejajar atau berada di depan. Kenangan
akan selalu ada di setiap hal yang akan kita lakukan, tapi biarlah mereka
melakukan tugasnya, menjadi pengingat bahwa kita pernah salah, dan menjadi guru
terbaik buat kita. iya kan? masa lalu adalah guru terbaik. Dan kamu harus tahu,
bahwa aku di sini percaya, bahwa apapun yang pernah terjadi pada kita (dulu
nya) hanya lah sebuah penundaan untuk mencapai kebahagiaan kita. Entah, bagaimana endingnya nanti.
Aku
(mungkin) tidak cukup bisa membuat mu melupakannya, tapi setidaknya aku
berusaha. Walaupun kurasa aku tak melakukan apa-apa, hanya kamu yang bisa
menilai semuanya.
“ hey .
“ aku terlonjak, kaget. Wajahnya begitu dekat, matanya menatapku dengan
pandangan yang menyelidik.
“ kamu
mikirin apa?” tanya nya lagi. Aku membuang muka, malas menjawab dan memutuskan
untuk diam.
“ aku
dari tadi ngomong, kamu cuekin. Sampe aku nyanyi-nyanyi gak jelas juga kamu gak
peduli, mikirin apa sih ?” Dia mengecilkan volume cd player nya. Aku menoleh,
ia sedang serius menyetir.
“
mikirin makanan tadi, aku gak habis makannya. Kasian .” ujarku pelan.
Dia
tertawa pelan, “ gak mungkin ah. Sampe lama gitu melamunnya. Mikirin apa? Jawab
dong.”
“ kamu
ah, kepo bener sekarang. Makanya jadi cowok peka dikit coba bisa gitu baca
pikiran aku.” Sahutku.
“ non,
kalo aku bisa baca pikiran, aku gak pake nanya segala, kali. “ balas nya. Aku
tertawa.
“ ya
terus? Masih mau tau apa yang aku
pikirin?” tanyaku. Dia mengangguk pelan.
“ aku
mikirin skripsi.” Kataku pendek tanpa basa-basi. Dia menoleh kesal, dan ia hanya
mengangkat bahu, “ ya deh, terserah. Aku juga gak mau ngasih tau apa pikiran ku
juga kalo gitu.”
“ emang
kamu lagi mikirin sesuatu?” tanyaku. Dia mengangguk. Wajahnya berubah serius.
“
mikirin apa?”
“
rahasia.”
Aku
menyandarkan tubuhku di kursi, “ ya deh terserah.” balasku.
Dia
tertawa, “ mau tauuuuu?” tanya nya menggodaku.
“ iya,
apaan?”
“ yang
jelas bukan mikirin skripsi, kan aku udah lulus.”
“ ya
deh, terserah deh.” Sahutku kesal.
“ aku
mikirin kamu.” Jawabnya. Kemudian Dia tersenyum lebar.
“ idih,
gombal. Lama-lama aku tinggal di pinggir jalan juga nih orang.” Jawabku asal
sambil menahan senyumku.
Dan
kemudian aku melihatnya tertawa. Dan aku
merasa bersyukur melihatnya.
Untuk
kamu yang pernah kecewa, untuk kamu yang pernah merasa sia-sia, yakinlah bahwa
akan ada seseorang yang menganggap kamu ada dan begitu berarti untuknya. Karena
bahagia itu akan datang di saat kamu bersama seseorang yang menganggap kamu
adalah kebahagiaannya.