Sunday, December 21, 2014

Hoshi

"Dunia ini gak adil." sungut Citra. Gadis cantik berambut panjang yang hidupnya dihabiskan dengan mengeluh dan menuduh dunia ini tidak ada keadilan.
"Kenapa?" tanyaku.Aku menyeruput   es cokelat-ku habis. terdengar suara berisik dari dasar gelas.
" paketan data si merah semakin mahal, udah dibeliin tetep aja lelet."
aku tersedak es batu.
"Penting banget ya, Cit." Geisha menimpali. Citra memasang tampang cemberut.
"Iya ini penting, Ges. Banget." Geisha hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. " Paketan data diperhatiin, itu loh pacar kamu, apa kabar?" sindirnya.
Citra nyengir lebar, memamerkan giginya yang dipasangi kawat berwarna biru tosca.
"Baik. Kabarnya pacarku lagi kerja. dan beliau sudah makan siang. barusan nge-cek." sahutnya bangga.
" Selingkuhanmu apa kabar, Ges? Sehat? Belom ketemu sama pacar sah kamu?" balas Citra. Geisha, cewek-paling-sadar-kalo-dirinya-cantik-dan-dipuja hanya tertawa sambil menjitak kepala Citra. "Kampret." sungutntya.

Aku tertawa melihat tingkah dua sahabatku. Kami sedang santai di sebuah kafe di pinggiran jalan.  Bangunan tua yang disulap menjadi tempat bercengkrama yang hangat. Aroma cokelat dan kopi yang khas menguar dimana-mana, menciptakan suasana hangat dan tenang. Satu lagi, kafe ini tidak terlalu ramai, karena itu kami menyukainya. Citra duduk di sebelahku sambil menyandarkan badannya dan asyik bermain dengan gadgetnya, Geisha sahabatku yang satu lagi sedang asyik mengetik sesuatu di laptop nya, mungkin menulis untuk novelnya yang baru. Air hujan meneteskan rintiknya di jendela besar didepan kami, menyisakan garis-garis air dan mengaburkan pandangan. Aku melamun menatap jendela, menghitung bulir-bulir air hujan yang jatuh.

Bintang Ergadiansyah.
Kamu dimana? Kamu sedang apa?
Sudah lama ya kamu tidak ada disampingku. Biasanya kamu selalu ada. Nemenin aku disini. duduk berjam-jam dengerin semua celotehan ku, sambil sesekali berdebat dan bertengkar kecil, sampai akhirnya kamu menarikku ke pelukanmu, karena lelah menghadapi perempuan yang selalu membalas setiap kata-katamu.
kamu tahu? Aku rindu. Mungkin aku selalu mengirimkan pesan pendekku untukmu, dengan kata-kata yang itu-itu saja, "Bintang, aku kangen." kamu pasti bosan membacanya. Aku tahu kamu pergi untuk bekerja, untuk menjadi lelaki sukses dan yang bisa keluarga mu banggakan, dan aku sangat mendukung semuanya. Tapi apa kamu tahu? Setiap malam aku selalu bertanya-tanya kapan kita bisa bertemu, kapan kamu kembali, dan kapan kamu bisa terus ada disampingku.Oke, ini terdengar egois, tapi bolehkan aku berharap seperti itu? Kadang aku tidak sekuat dan setegar yang kamu pikirkan. Berharap kamu pulang dan memelukku seperti biasa.
Kamu sudah makan? Kamu pake jaketkan?
Aku selalu berpikir apa kamu sehat-sehat saja, apakah makanmu teratur atau apakah kamu tidur dengan cukup. Aku harap kamu sehat selalu, Bin.Meskipun kamu selalu mengeluh dengan sikapku yang cuek dan tidak ada manis-manisnya untukmu. Hahaha. Iyakan? Tapi beginilah aku. Caraku menyayangimu. Mungkin kamu merasa bahwa aku perempuan aneh yang tidak peka. Tapi beginilah aku. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar kamu selalu bahagia, agar Dia memberimu kemudahan disetiap kesulitan yang kamu temui, agar kamu selalu sehat, agar tidurmu nyenyak, agar hatimu dijaga hanya untukku. Caraku menyayangimu dengan selalu mendoakan mu, mengharap yang terbaik untukmu. Aku percaya, meskipun kita jauh, aku bisa tetap selalu memelukmu dengan doaku.
Mungkin aku bukan orang yang religius, tapi aku percaya dengan adanya kekuatan doa. Aku percaya bahwa tujuan baik akan dimudahkan dan mendapat hasil yang baik pula.
Berdoa yang baik. Berprasangka baik. Semoga Tuhan mengabulkan setiap doa kita ya, Amin.

" Drianna? "
aku tersentak. Citra menatapku lembut, sentuhannya ditanganku menyadarkanku.
"i-iya." suaraku terdengar parau.
" Kamu nangis?" tanya Geisha. Aku mengerjap, dan mengusap pipiku yang sedikit basah. Mataku sedikit kabur. Aku menggelengkan kepalaku sambil mengambil tissue.
"Kamu kangen Bintang ya?" Citra memeluk bahuku. Aku hanya mengangguk pelan.
"si Bintang gak ada kabarnya?". Lagi-lagi aku mengangguk.
"Dia pasti baik-baik aja, kamu percaya deh, Dri. Bintang kan kuat, itukan yang selalu kamu bilang."Citra berusaha menghiburku.
" Iya. Dia baik-baik aja. Pasti." Geisha menepuk bahuku pelan.
"Hidup ini adil loh, Dri. Kamu kesepian gak ada Bintang, masih ada aku dan Geisha yang nemanin kamu. " ujar Citra. Aku tertawa kecil mendengarnya, dan kemudian Geisha memeluk kami berdua.

Mereka memberiku sedikit kekuatan untuk bisa tetap kuat, aku bersyukur mempunyai dua sahabat seperti mereka. Dua orang yang selalu mengerti ku, dua orang yang paham kapan waktunya untuk berbicara dan kapan waktunya untuk diam mendengarkan. Dua orang yang selalu menemani ku disaat aku kesepian. Dua orang yang mengisi langitku ketika tidak ada Bintang.





I miss you, Dy.



ily, Dy

" i love you." ucapku.
Kamu hanya tersenyum dan mencium keningku sekilas, tak berucap apa-apa.
Sesederhana itu. Sesederhana itu aku tahu perasaanmu. 

" Aku minta maaf."
Kamu menatap ku marah dan memalingkan wajahmu. tak berucap apa-apa. sedikit senyum terukir di bibirmu. Senyuman sinis. 
Sesederhana itu. Sesederhana itu aku tahu perasaanmu.

"Kamu sakit?" tanyaku.
Kamu menggeleng. Tapi aku bisa melihat wajah pucat mu. Rambutmu yang berantakan, dan rambut halus disekitar dagu mu. Tanda bahwa kamu tidak bercukur dan lupa untuk mengurus dirimu. 
Sesederhana itu. Sesederhana itu aku tahu aku menyakiti mu.

"Aku bisa apa?" tanyaku. Pertanyaan bodoh yang sering kulontarkan jika kita berada diujung pertengkaran. 
Dan kamu menjawab. "Gak. Kamu gak perlu berbuat apa-apa."

"Kamu maunya apa?" tanyaku lagi. 
" Gak ada. " sahutmu. Dan kemudian kamu pergi dan meninggalkan aku.

Aku hanya bisa diam. dan menangis. Sadar bahwa laki-laki sebaik kamu harus terus aku sakiti. Bodoh?Iya.Tidak tahu diri? Jelas. Tapi lagi-lagi aku bertanya, "aku bisa apa?" - dan kali ini pun aku tak bisa menjawabnya.

iya. Aku bisa apa? Saat semuanya sudah terjadi dan tidak bisa kembali. Saat apa yang kamu benci aku lakukan terus menerus tanpa aku sadari aku telah menyakiti.Aku hanya bisa berjanji dan mengingkari. Sekalipun aku jujur berkata apa adanya kamu pun akan skeptis dengan semuanya.

Aku minta maaf.
Minta maaf atas semuanya. Semua hal yang membuat mu sakit. Aku minta maaf. 
Dan kamu hanya akan bilang, "Cuma itu kan yang bisa kamu lakukan?" 
Iya. Dan aku pun bertanya lagi, "Aku bisa apa?" 
Seperti lingkaran. Tidak akan ada habisnya.

Dengan tulus, aku minta maaf. 
dan Terimakasih.

Terimakasih karena telah menjadi lelaki baik dan sangat bisa diandalkan untukku. 
Terimakasih karena mau bersabar menghadapi ku.
Terimakasih karena sudah menjadi teman, sahabat, kakak, ayah, dan kekasih sekaligus untukku
Terimakasih karena sudah mau mendampingi ku disaat aku membutuhkan dukungan mu.
Terimakasih karena sudah mau memeluk ku saat aku menangis.
Terimakasih karena selalu mengisi hari-hari ku.
Terimakasih karena membuatku tertawa dan tersenyum.
Terimakasih atas cinta yang begitu besar dan tulus untukku.
Terimakasih atas Segalanya.
Untuk setiap nafas dan detak jantung yang kamu habiskan bersamaku.

Terimakasih Tuhan, untuk menghadirkannya dihidupku. 


i love you, Dy.






Wednesday, May 22, 2013

You and me . (part 3.)

Maret, 2013.

Aku pergi menginap di rumah teman dekatku. Saat itu akhir bulan dan aku pergi untuk 4-5 hari. Dirga menghubungi ku sekali-kali, entah hanya menegur ku , atau hanya sekedar mengingatkan ku soal makan. Dan aku hanya mnerespon seadanya, laki-laki yang sedang patah hati adalah hal yang kuhindari. Apalagi dia adalah Dirga, orang yang beberapa bulan terakhir ini cukup membuat perasaanku turun-naik.
Frekuensi Dirga menghubungiku semakin sering. Aku bingung. Apa maunya orang ini? tapi aku mengikuti alurnya, aku membalas setiap pesannya, mengikuti setiap jokesnya, dan suatu malam aku melihat ia memasang namaku di statusnya. APA-APAAN NIH?
Laki-laki yang sedang patah hati, laki-laki yang kuhindari, justru sekarang bisa membuat hatiku sedikit kacau. Ini namanya kemakan omongan sendiri.

April, 2013.

 Aku menatap layar ponselku. Sebuah gambar di kirim Dirga untukku. Isinya sebuah layar laptop lcd yang menampilkan tulisan “ I love you, I want you and I need you.” Aku terdiam. Enggan untuk komentar. Apa ini terlalu cepat ?

Aku kembali ke awal-awal kami mulai akrab, komen-komen singkat dia soal foro-fotoku, atau sekedar pesan-pesan mengingatkan soal makan dan ucapan selamat pagi-malam lainnya, sampai ia menghilang dan kemudian aku menegurnya dan memberinya ceramah singkat soal cinta. Aku bertemu dengannya beberapa kali, mengobrol beberapa hal waktu kami masih sekolah, menghabiskan beberapa malam dengan bercerita satu sama lain lewat telfon, atau hanya sekedar mendengarnya bernyanyi di ujung sana. Aku mengingat semuanya, hingga sekarang, ia mengirimi ku gambar seperti ini.

Aku terdiam.

“ Mey .. “

Aku hanya membaca pesannya. Aku tahu ia berharap jawabanku, dan entah kenapa, aku mengambil ponselku dan mulai menggambar sesuatu di sana. Iya, aku membalas pesan gambarnya, dan ya, aku membalas perasaannya.

April, 2013.

Aku menatap Dirga di sampingku, wajahnya serius. Ia sedang menyetir dan sesekali menagangguk-anggukkan kepalanya mengikuti  nada musik yang sedang kami dengar.

“ Di ... “ tegurku. Dirga menoleh dan tersenyum kepadaku, senyum manisnya yang sempat kukutuk dalam hati saat bulan Agustus tahun lalu.

“ kamu sudah sembuh ?” tanyaku tiba-tiba.

Dirga menatapku heran , ia terdiam cukup lama, kemudian memutuskan untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kami berhenti. Dirga menghadap ke arahku, ia menatapku cukup lama, aku hanya diam balas memandangnya. Apa aku salah bertanya ?

“ sembuh apa ?”

Dirga bego. Sungutku dalam hati.

“ sembuh, kamu tau kan maksud ku apa ?”

“ iya, maksud kamu soal hati ?” tanyanya. Aku mengangguk pelan.

“ iya, udah . kalo belom sembuh, kenapa aku sekarang sama kamu. “ jawabnya.

“ kamu yakin ?”

“ iya, Meyana. Aku yakin. Sebenarnya aku yang ngerasa minder sama kamu, kamu inget kan aku pernah bilang waktu itu sama kamu, kalo aku ngerasa gak pantas untuk kamu?” tanyanya. Aku mengangguk lagi.

“ dan kamu jawab, “ kalo kamu ngerasa gak pantas, aku juga enggak ngearasa pantas buat kamu.” Kamu jawab begitu. Dan aku speechlees denger jawaban kamu, disitu aku mulai yakin kalo aku bisa jadi yang terbaik buat kamu.”

“ iya. Tapikan kamu ...”

“ kenapa Mey? Karena aku kemarin patah hati ? karena aku kemarin sakit hati karena di sia-sia-in? 
Terus kenapa? Apa aku gak boleh cari kebahagiaan aku lagi?”

Aku hanya diam.

“ Meyana. Aku paham kalo kamu ngerasa gak yakin sama aku, waktu nya memang terlihat cepat, tapi dari awal aku sudah suka kamu, dan aku memang sudah tertarik sama kamu, Cuma karena beberapa hal aku terlihat maju mundur, tapi setelahnya aku yakin dan mulai sekarang aku jadikan kamu sebagai tujuanku.”

Aku menoleh menatapnya. Dirga tersenyum menatapku.

“ Meyana, gak apa-apa kan aku jadikan kamu tujuanku?” tanyanya.

Aku menatap ke dalam matanya. Tanpa sadar, aku mengangguk pelan. Dirga mengacak rambutku pelan, dan menggenggam tanganku erat.

Langit sudah memerah, cahaya matahari berwarna  keemasan.

“ langitnya bagus, “ kata Dirga pelan.

Aku tersenyum kecil. Iya lebih bagus karena aku melihatnya bersama kamu. Sahutku dalam hati.

Mai, 2013.

Aku melengos melihat kelakuan Dirga, ia sedang asyik bermain gitar virtual di ponselku. Apa rasanya sih main gitar di hape ? Dirga menyukai musik. Ia senang mendengarkan musik. Mungkin bisa di bilang dia akan badmood jika sehari saja tidak mendengarkan musik. Ia senang menyanyikan lagu apa saja yang bisa dia ingat liriknya, bahkan saat kami sedang ngobrol di telfon pun terkadang aku harus rela mendengar dua sampai tiga menit Dirga bernyanyi, mengikuti alunan musik yang selalu di putarnya dikamarnya. Tapi aku senang mendengarnya, aku senang melihat tingkahnya. Musik dan Dirga adalah satu, jika mereka sudah bertemu, aku hanya bisa melihat mereka dari luar. Tapi tidak apa, aku senang melihat Dirga bahagia.

Mai , 2013.

“ sayang, sekolahan kamu tuh.” Tegurku.” Malam itu kami melewati gedung SMA kami dulu.
Dirga menoleh, dan tersenyum kecil. “ iya, sekolahan kamu juga kan.” sahutnya.

“ hehehe, iya. Jadi kangen jaman sekolah.” Ujarku tiba-tiba. “ asik kan, ngumpul lagi sama temen-temen, belajar lagi, ketemu lagi sama guru-gurunya, pokoknya seru-seruan lagi.”

Dirga hanya diam. Aku menoleh, “ kamu kenapa? Kok mukanya bete?”

“ gak apa-apa. Aku sih gak mau balik ke jaman sekolah.” Katanya pendek.

“ kenapa?”

“ soalnya, kamu gak perduliin aku. Kamu gak tau apa-apa soal aku. Kamu bukan milik aku, jadi aku males ah balik ke jaman sekolah.” Jawabnya. Aku tertawa mendengar jawaban Dirga, agak kekanak-kanakan menurutku.

“ emangnya kamu tau aku? Waktu sekolah kamu gak pernah negur aku.” Godaku.

“ siapa bilang?” Dirga menoleh ke arahku. “ aku merhatiin kamu, aku tau nama panjang kamu, aku tau rambut kamu gimana, baju seragam sekolah kamu, tempat parkiran biasa kamu, kamu sering ke kantin mana, kamu duduknya dimana, teman sebangku kamu. Aku tau.” Dirga mengoceh panjang lebar. Aku terdiam. Dan sedikit bingung.

“ kenapa bisa? Coba kasih tau aku,” tantangku. Dirga menghentikan mobilnya di depan sebuah taman, aku mengikutinya keluar dari mobil dan berusaha men-sejajarkan langkahku dengannya.

“ beli kopi susu dulu yuk, aku pengen ngopi. “ ujarnya. Aku mengangguk dan duduk di sebuah kursi besi di dekat situ. Menunggu Dirga membeli secangkir kopi susu.

Dirga menghela nafas panjang, ia duduk di sampingku dan menghirup kopinya.

“ Di, pertanyaanku dijawab dong.” Protesku.

“ iya , sabar sayang. Kamu gak sabaran banget nih.” Jawabnya. Dirga memainkan cangkir kopi ditangannya.

 “ kamu Meyana Ariyani , kelas IPS 2, temen sebangku kamu Alila, kalian duduk di depan nomer 2. Kamu sering ke kantin belakang bareng Ranca, Reb dan Ditya. Rambut kamu panjang berponi, kadang di iket, kadang di biarin tergerai, tempat parkir kamu biasanya di depan ruang dewan guru, kamu sering duduk-duduk di depan kelas kamu. Ya kan?” Dirga menjawab semuanya. Aku sedikit melongo.

“ Dirga, kok kamu ... “

“ hahahaha, iya Mey. Aku merhatiin kamu. Tapi ya Cuma sekedar itu, dari jauh, liatin kamu. Tanpa ada maksud sedikit pun untuk mendekat ke kamu. Lucu dan aneh ya? Aku suka kamu, kamu manis. Meyana Ariyani. Tapi ya, sekedar itu aja.” Dirga tersenyum kecil menatapku.

“ iya, lucu dan aneh.” Gumamku pelan. Teringat saat-saat SMA dulu waktu aku mencari tahu soal Dirga, begaimana rupanya, dan tingkahku yang hanya bisa melihatnya. Dulu , Dirga hanya sebuah nama untukku, Dirga hanya sosok yang tidak sengaja terlihat oleh mataku. Dan aku tak pernah menyangka, bahwa suatu saat Dirga akan begitu berarti untukku. Bukan hanya sekedar nama, bukan hanya sekedar sosok yang tidak sengaja terlihat. Sekarang dia yang ingin ku lihat, nama nya yang ingin ku ucap. Dirinya yang ingin ku dekap. Waktu mempermainkan aku dan Dirga. Iya, ini mungkin sudah di atur sedemikian rupa. Dan aku menikmatinya.

Dirga memeluk bahuku, “ Sayang, kita jaga semuanya. Untuk tetap menjadi “kita”.”

Aku mengangguk pelan. senyumku merekah, “ Di, kamu nyangka gak sih bakal begini?”

Dirga tertawa pelan, dan kemudian menggelengkan kepalanya. “ enggak nyangka sama sekali, tapi aku senang. Dan bersyukur ketemu kamu lagi akhirnya.”

“ iya. Aku juga senang.”

“ i love youuuuu , i want youuuu, i need youuu ! “ seru Dirga asal. Aku tertawa terbahak. Dirga Bego, sungutku.

“ kiss kiss hug hug bisa ?” tanya nya. Aku melirik nya, ia menampakkan wajah lucunya.

“ Gak.” Jawabku pendek.

“ FINE.” Sahut Dirga. Aku menoleh dan mendapati wajahnya yang cemberut. Aku hanya tertawa melihatnya.

Hari itu,  kami menikmati malam kami. Menatap lampu-lampu kendaraan yang lewat di depan kami, merasakan angin yang berhembus di kulit kami, di bawah langit malam yang agak tertutup awan, dan menikmati secangkir kopi susu hangat. Aku tidak perduli bagaimana nanti, yang aku tahu, aku hanya ingin Dirga yang menemani.




--- tamat----

You and me . (part 2)


Juni, 2008.

Alhamdullilah. Aku lulus. Dan semua angkatan ku pun lulus (tidak heran). Kami merayakan kelulusan dengan mencoret-coret baju. Awalnya aku mewanti-wanti untuk tidak mem-pilox baju seragam putihku, aku melotot setiap Ranca atau Ditya mendekatiku dengan botol pilox mereka. Kemudian , entah kenapa tiba-tiba Reb menyemprot cairan berwarna merah itu di belakang kepalaku, rambutku menjadi merah, dan setelah itu selesailah baju putih bersihku, di semprot habis-habisan. Cairannya terasa panas , dan aku benci itu. tapi setelahnya, aku hanya tertawa-tawa. Ranca, Ditya dan Reb menghambur entah kemana. Kemudian aku ingat Leo memelukku singkat, Alila menangis tertahan di depanku, Die memelukku kencang karena ia akan melanjutkan kuliah di kota lain. Aku berdiri sambil mengunyah bakso kacang favoritku, Alila di sampingku sibuk menelfon ibunya dan mengabarkan bahwa ia lulus. aku menghela nafas. Menyaksikan semua angkatan kami berkumpul di halaman depan sekolah, beberapa cewek berpelukan sambil mengelap air mata, beberapa sibuk mengambil foto, aku ikut dengan siapapun yang menarikku untuk berfoto, dan menyodorkan punggung ku untuk siapapun yang ingin menandatangani seragamku. Saat itu, aku tidak tahu keberadaan Dirga. Aku sibuk dengan momen kelulusanku.  SMA ku sudah selesai. Selesai pula Dirga buatku.

Agustus, 2011.

3 tahun berlalu. Aku sudah lupa soal Dirga. Kemudian , malam itu ku lihat recent updates di hapeku, seorang teman sekolahku mengganti display picture nya, aku membuka nya, dan kulihat wajah itu lagi. Dirga , sedang tersenyum manis dengan hanya  mengenakan  kaos singlet  berwarna hitam, di sampingnya Febri, teman sekelasku. Aku melihatnya lagi.

Desember, 2011.

Febri mengirim sebuah broadcast untukku, aku membuka profilnya dan di sana, Dirga. Sedang berdiri ditengah-tengah 2 cewek, salah satunya Febri. Aku memberanikan diri untuk bertanya, kemudian jari-jariku memencet keypad.

“ Feb, itu Dirga kan?”

“ iya, ini Dirga, Mey. Kenapa ?”

“ gak apa-apa. Eh kamu kuliah di bandung kan?” tanyaku. kemudian LED hapeku berkedip. Balasan dari Febri.

“ iya nih, aku kuliah di Bandung. Kamu apakabar Mey?”

“ Oh, baik. Jadi , Dirga di Bandung juga?”

“ iya. Satu kampus, tapi beda angkatan :D .”

Aku menatap layar hapeku. Jadi, Dirga di Bandung? 

Januari 2012.

­Aku selesai praktek mengajar, kepalaku mumet dan pusing. Kemudian kepusingan ku bertambah saat hapeku hilang. konspirasi macam apa ini? oh well, mungkin ini tidak ada hubungannya dengan konspirasi  apapun, aku hanya melebih-lebihkan semuanya.
Kemudian ibuku membelikan ku hape baru, hadiah dari nilai A yang ku dapat dari ujian mengajarku. Aku meminta kontak sekolahku ke beberapa temanku, dan aku menemukan nama Dirga di sana. Aku memutuskan untuk meng-invite nya, dan beberapa menit kemudian kontakku bertambah satu. Dirga. Aku membuka profilnya, dan memutuskan untuk mengabaikannya. Toh selama ini aku tak pernah bertegur sapa dengannya.

Maret , 2012.

Beberapa kali nama Dirga muncul di notifikasi bbmku, ia hanya mengirim broadcast nggak penting. Dan terkadang hanya simbol titik. Aku mengabaikannya. Apa yang bisa ku sapa dari sana?

Awal Agustus, 2012.

Malam itu aku memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe, menyaksikan adik sepupuku yang kebetulan sedang tampil. Aku datang dengan adik-adikku malam itu. mengambil tempat duduk di depan, dan saat itulah aku melihat Darwin, teman sekelasku yang beberapa hari ini sering mengirimi ku bbm singkat gak jelas.

“ Meyana?” sapanya. Darwin menegurku. Ia bersama teman sekelasku yang lain.

“ astaga , Darwin? Hahahahaha. Kok bisa disini kamu nya?” tanyaku.

“ Gak tau, apa kita jodoh?” godanya. Aku memutar kedua bola mataku.

“ terserah kamu deh,” sahutku. Darwin menarikku dan mengajakku duduk di mejanya, aku bernostalgia beberapa saat dengannya, bertanya kabar dan kegiatan selama ini. Malam itu, aku sama sekali tak menyangka bisa bertemu dengan teman sekolahku di tempat seperti itu.

Aku asyik ngobrol sampai tidak sadar bahwa ada beberapa orang lagi yang bergabung malam itu. Dan saat adik sepupuku tampil, aku menoleh ke arah samping, dan saat itulah aku sadar. Tatapan ku terhenti di dia. Dia itu Dirga, duduk diam tepat di kursi sebelahku. Otakku berputar keras, mengingatnya. Mengingat setiap momen saat-saat melihatnya tanpa sengaja.  Dan tanpa berpikir panjang, entah apa yang membuatku begitu komunikatif malam itu, aku menyapanya. Untuk pertama kalinya.

“ Dirga ya?” tanyaku basa-basi. Padahal aku tahu jelas itu Dirga. Pertanyaan yang agak bodoh, menurutku, Dirga mengangguk, dan ia tersenyum. Wajahnya berubah. Rambutnya sedikit gondrong, ia sedikit terlihat dewasa, badannya berisi, tidak kurus lagi seperti saat sekolah. Tapi matanya masih sama, alisnya, dan bulu matanya, ia mengenakan kaos hitam.  Dan senyumnya manis. Ingin rasanya aku menggetok kepalaku sendiri, berani-beraninya aku berpikir soal senyum Dirga.

“ udah balik, Di? Kemaren di Bandung kan?” tanyaku sok akrab.

“ iya nih, udah kelar kuliahnya. Kamu ? udah selesai kuliahnya ?”

Aku meringis, aku benci ditanya soal kuliah. “ belom, Di. Hehehe .”

Dan hanya itu.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku bertemu lagi dengan Dirga, dan untuk pertama kalinya aku menegurnya selama aku tahu namanya. Kemudian aku kembali ke mejaku dan mendapati pacarku (saat itu) datang dan membawa beberapa tangkai bunga untukku. Demi apapun, aku rela menjadi kecil dan masuk ke gelas milkshake vanilla ku saat itu. hidupku seperti FTV. Darwin dan mungkin Dirga menertawai kejadian itu. Malam yang aneh. Tapi aku sedikit senang, bisa bertemu Dirga lagi dan menyapanya.

Bulan Puasa, 2012.

Ada acara buka bareng puasa sekolah ku. dan aku memutuskan untuk hadir. Tidak ada Dirga di sana. Aku mencarinya, tapi hanya sekedar ingin tahu bagaimana dia.  Tapi karena waktu itu ramai dan banyak teman lama, aku jadi lupa bahwa aku “pernah” mencarinya. Dirga, kamu hanya lewat di kepalaku, tapi nyaris tidak pernah bertahan lama di dalamnya.

Lebaran , 2012.

Aku mengirim bbm singkat idul fitri buat Dirga. Dan ia membalasnya. Dengan emot senyum di akhir kata-katanya. Beberapa detik aku menatap layar ponselku, dan kemudian memutuskan untuk memilih opsi end chat dan menghapus chat Dirga. Entah lah, aku berharap ia akan membalas lebih dari hanya sekedar kata-kata “ Iya, Meyana. Maaf lahir batin juga J . “ ERRR.

November, 2012.

“ lucu. “ dirga menyapaku via bbm pas setelah aku mengganti display picture ku.
Dan aku hanya membalas, “ iya, terimakasih. J “ . See? Aku pun bisa mengirim emot senyum seperti itu.

November, 2012.

Aku sedang asyik chatting malam itu, dan tiba-tiba nama Dirga muncul di deretan daftar chatku.
“ udah cocok jadi Ibu, “ sapanya saat itu. memang, malam itu aku memasang fotoku yang sedang menggendong keponakanku yang berumur 15 bulan.

Iseng aku membalas,  “ iya, kamu bapaknya ya?” . aku nyaris menyesal saat membalas seperti itu, aku hanya berharap bahwa Dirga punya selera humor seperti ku.

“ bisa, tapi kamu lulus kuliah dulu ya. “

Jantungku mencelos. Bukan , bukan karena geer atau apa, tapi mendadak aku teringat skripsi ku.
“ Dirga, kamu ngingetin aku aja L . “

“ gak apa-apa, biar kamu ter-motivasi J . “

“ oke, makasih ya Dirga. “ balasku. Kemudian Dirga tertawa. untuk pertama kalinya aku chatting dan feedback lumayan dari Dirga.

Desember,  2012.

Aku mengecek kontakku, dan berhenti di nama Dirga. Membuka profilnya dan melihat fotonya sedang bersama seorang anak kecil.

“ Udah cocok jadi Bapak ya.” Iseng aku mengiriminya pesan seperti itu, membalas jokesnya.

“ iya , kamu mama nya ya?” balasnya. Aku terbahak, dia masih ingat chat kami dulu.

“ bisaaaa, bisaaaaa. Yaudah yuk ke KUA.”

Aku menggetok kepalaku sendiri saat membaca balasanku yang agak flirting.

“ Iya ayuk. Eh tapi kamu lulus kuliah dulu deh baru kita ke KUA, “ ujarnya. Aku tertawa lagi, malam itu, chatting kami seperti deja vu.

Januari , 2013.

Tahun baru sudah lewat. Dan aku di sibukkan oleh skripsi ku, revisi yang banyak dan mendapatkan dosen yang super perfeksionis adalah kesialan awal di tahun 2013 buatku. Malam itu, aku berbaring dengan headset menyumpal kedua telingaku. Breakeven dari The Script menjadi pengantar tidurku. LED ku berkedip, aku membuka chat ku dan membaca pesan dari Dirga.

“ kok belom tidur ?”

Hanya begitu isinya. Kemudian aku membalasnya. Setelah berbasa-basi sedikit Dirga mengirimi ku sebuah lagu.

“ kirimin lagu favorit kamu dong, “ lanjutnya. Aku membaca judul lagu yang di kirimnya. Chasing Cars dari Snow Patrol. Tanpa pikir panjang aku pun mengirimnya The Script. Entah, malam itu obrolan kami panjang dan itu pertama kalinya ia berbicara panjang lebar denganku. Dan entah kenapa, aku merasakan hal yang sedikit aneh di hatiku untuk Dirga. Tapi aku mengingatkan pada diriku sendirii, aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak dengannya.

Februari, 2013.

Dirga sering mengirimi ku pesan-pesan pendek, mengingatkan ku untuk makan, mengucapkan selamat pagi dan hal-hal sepele lainnya. Kami semakin sering ngobrol, dan kemudian di akhir bulan Februari ia seperti hilang, dan saat itu ( aku dekat dengan beberapa orang) jadi aku tidak mencari-carinya. Hingga suatu sore, aku melihat update- dari kontaknya dan melihat display pic nya bersama seorang cewek, dan aku tahu itu adalah pacarnya. Kemudian entah kenapa aku tertawa saat melihatnya, dan di pikiran ku hanya,

 “ oh, jadi gini rasanya di php-in?” .

Awal Maret, 2013.

Aku melihat postingan twitter Dirga, dan aku langsung tahu bahwa dia sedang bermasalah dengan pacarnya. Entah kenapa, aku lagi-lagi tertawa melihat tingkahnya. Menampakkan masalah di media sosial yang bisa di lihat banyak orang. Dia sedikit kekanak-kanakan, tapi kita akan seperti itu juga bukan ? jika berkata soal hati, apa logika kita masih bisa bertindak? Tidak gampang untuk menyesuaikan keduanya, menyeimbangkan hati dan logika. Dan kemudian aku pun paham, Dirga pernah cerita soal hubungannya yang sudah lama, dan disitu lah aku bisa melihat bahwa Dirga sedang berjuang untuk sesuatu yang pernah di bangunnya. Ah, Dirga. Kamu itu lucu dan menarik, kenapa bisa jadi cowok yang melankolis begini sih? Dumelku dalam hati.

Maret, 2013.

Aku membuka kontak Dirga, kemudian melihat statusnya sedang mendengarkan lagu Payung Teduh, aku suka lagunya. Tanpa pikir panjang aku mengiriminya bbm.

“ Bagi lagunya dong, di. Please.”

Beberapa detik kemudian simbol D berubah menjadi R, dan Dirga membalas tak lama kemudian.

“ gak ah.”

Buset, pelit amat sih nih cowok. Lagi galau sempet-sempetnya usilin orang.

“ kenapa ? L “ tanyaku saat itu.

“ entar gak terkirim, bentar lagi aku take off. Ni aku di bandara. “

“ emang kamu mau kemana?”

“ pulang ke sana. “ jawabnya. Aku diam, kemudian aku sadar dia sedang tidak mood untuk ngobrol. Ku abaikan pesan balasannya.

Aku meng-scroll timeline ku lagi, dan membaca postingan Dirga yang cukup membuatku tertawa kencang di kamar sendirian. Ini cowok, pride nya harus di selamatkan.

“ Di, kamu jangan galau-galau gitu dong. Apaan sih cowok kok begitu?” begitu pesan yang aku kirim.

“ sakit, Mey.” Balasnya.

Senyumku mendadak hilang. Begitu berarti nya kah cewek itu buat Dirga?

“ iya, tapi yakin aja semua ini terbaik buat kamu. Makanya kalo cinta jangan berlebihan. Lagian , kayak kehilangan yang gimanaaaa gitu, masih banyak yang sayang dan perduli sama kamu kok.” Komentarku. Pesan ku terkirim. Aku terdiam sejenak.

“ Kamu sudah berjuang belum?” tanyaku mendadak.

“ kamu kayak bapakku aja deh ngomong begitu. Berjuang ? udah. Tapi dia gak tau-tau.” Jawabnya polos.

Aku tertawa lagi. Luar biasa Dirga ini, galau bisa membuatnya begitu polos seperti anak kecil.

“ aku udah janjian sama bapak kamu :D,”

“ yaudah, kalo dia gak perduli, lepasin dia. Buat apa kamu berjuang untuk orang yang gak perduli sama kamu?” tanyaku retoris.

“ iya, aku tahu. Aku udah berhenti perjuangin dia kok. Aku mau fokus ke masa depan sekarang.

 Makasih ya Mey.” Balasnya.

“ Sama-sama Di,” jawabku.

Saat itu, aku hanya bisa berharap bahwa Dirga akan baik-baik saja. Dan kali itu, aku memutuskan untuk mengabaikan perasaan ku yang “sempat” untuknya.



--- bersambung -----

You and me . (part 1 )


Oktober, 2007.

“ dia lucu, dan aku suka liat dia, manis.” Ujar Diena kepadaku sore itu saat kami sedang duduk santai di teras rumahku. Diena sedang menunggu Leo, teman dekatku yang juga pacarnya. Aku mengunyah bakso ku, hanya mengangguk-anggukkan kepalaku. Entah aku tidak begitu perduli dengan cerita Diena soal mantan pacarnya yang dia sayangi banget itu. Aku baru 2 minggu kenal dengan Diena, dia gadis yang manis, rambutnya hitam sebahu, dan dia sangat suka bercerita. Bercerita apa saja, dan sekarang dia sedang menceritakan soal mantannya tanpa merasa bersalah, padahal dia tau aku dan Leo adalah teman dekat.

“ aku putusan juga sempat down dan sakit hati, aku sayang banget sih sama dia.” Diena melanjutkan omongannya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku, dan kali ini ganti mengunyah mie baksoku.

“ Dirga itu baik, dan simple. Dia gak neko-neko deh. Oh ya, aku nyumpah-nyumpahin dia pokoknya waktu itu, habis aku kesel di putusin.” Diena mengibaskan rambutnya, aku melongo, ya menurut lo? Emang ada gitu yang seneng di putusin? Kataku dalam hati.

“ kamu kenal sama dia kok, Mey.” 

Aku menelan potongan terakhir bakso ku, “ oyah?” sahutku pendek.

“ iya, dia beda kelas. Kamu IPS 2 ya? Dia itu.. hmmm kalo gak salah IPS 4 deh.”

Hening. Aku memijit-mijit pelipisku, “ Dien, itu kan kelasnya Leo, bearti mantan kamu itu sekelas sama Leo yang sekarang jadi pacar kamu?” tanyaku. Diena mengangguk dengan senyum sumringah.

Tolol . batinku lagi, malah senyum-senyum sumringah.

“ Iya, aneh ya? Hihihi. Leo tau kok soal Dirga. Dan dia kalem aja tuh, “

Oh jadi nama cowok yang dipuja-puja Diena itu Dirga. Dirga , eh Dirga yang mana ya?

“ kamu kenal Dirga gak Mey? Anaknya manis loh, cakep deh pokoknya. Aku sayang banget deh sama dia, dulu nya sih. Tapi beneran, dia manisssss banget.”

“ biasanya kalo cowok cakep sih aku tau, tapi gak pernah denger yang namanya Dirga deh. Anak baru?” tanyaku. Diena menggeleng. “ dia jarang sih sekolah, dia kan doyan bolos.”

“ sama dong kayak Leo,” sahutku pendek sambil membereskan mangkok-mangkok bakso di hadapanku, dan mengembalikan nya ke mamang bakso langgananku.

“ Iya sih, tapi dia lebih sering lagi. Mey, kamu harus liat orangnya deh, pasti kamu naksir!” teriak Diena dari teras.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku heran. Absurd abis nih cewek, gak nyadar apa daritadi nyerocos soal mantannya di depan temen deket Leo? Err.

“ tuh ada Leo tuh, “ ujarku. Dagu ku menunjuk ke jalan di depan rumahku. Diena bergegas membereskan  barangnya dan mendatangi ku yang sedang berdiri di depan pagar, sambil  memelukku cepat dan mencium pipi ku.

“ Mey, diem-diem ya soal Dirga.” Ujarnya. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku asal. Leo berhenti di depanku, “ udah selesai nge-bakso nya Mey?” tanya nya. Aku mengangguk.

“ Masa sih? Itu baksonya masih ada di mulut kamu ya? Pipi kamu gendut gitu. “ sontak aku memegang pipiku.

“ OH, bukan. Itu kan memang pipi kamu begitu ya.” Lanjutnya lagi.

Aku menoyor kepalanya, Diena tertawa-tawa di belakang Leo.

“ pulang ya, Mey.” Pamitnya.

“ IYA, SANA PULANG LU.” Sahutku judes. Leo nyengir dan kemudian ia pergi.

Aku membalikkan tubuhku ke rumah, berjalan pelan sambil memikirkan satu nama. Dirga.

Akhir Bulan Oktober, 2007.

Aku berlari menyusuri jalan masuk sekolahku, bel sudah berbunyi 10 menit lalu. Sialan, dumelku dalam hati. Gara-gara harus kembali mengambil tugas Sosiologi yang ketinggalan jadi telat begini. Aku terengah-engah. Sambil membuka jaket, aku mengintip sedikit ke koridor depan, persis melewati ruang BK. Lewat BK jam segini adalah musibah, bisa kena omelan bonus hukuman. Aku jalan mengendap-endap dan sebisa mungkin terlihat santai, terlihat ibu Ana sedang memeriksa beberapa kertas, dan ia membelakangi pintu masuknya. Aku menghela nafas lega saat berhasil melewati ruang BK, meja piket masih kosong. Sekolahan sedikit sepi, semua sudah berada dikelas masing-masing. Kelasku berada di ujung belokan. Dan sebelum belokan, aku harus melewati pintu samping ruang dewan guru, dan itu adalah musibah nomer dua hari ini.

“ Meyana Ariyani Kayantari.” Terdengar suara berat memanggilku. Langkah ku terhenti, dan aku membalikkan tubuhku sepelan mungkin.

“ dalam minggu ini kamu sudah terlambat 3 kali,”

Pak Ibnu berjalan  menghampiriku, aku memasang senyum terbaikku.

“ maaf Pak, tadi buku tugasnya ketinggalan, jadi telat.” Ujarku. Pak Ibnu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ dan kamu jarang ada waktu absen wali kelas, kamu tahu kan Meya? Jam 7.15 bel sudah berbunyi, dan saat itu guru masing-masing kelas akan masuk dan mengabsen, 7.30 bel kedua berbunyi, dan itu tanda kalo pelajaran sudah siap di mulai. Dan ini sudah nyaris 15 menit setelah bel kedua kamu baru datang dan senyum cengengesan di sini.” Omel pak Ibnu.

“ tapi Pak ... “

“ kamu ini, saya kasih tau begini masih saja berusaha ngeles, saya selama ini tidak meng-alpa kamu di absen pagi karena saya tau kamu selalu ada, tapi kali ini sudah ketiga-kalinya kamu begini,”

Aku menghela nafas pasrah, menghadapi wali kelas yang lagi sensi adalah kutukan buatku pagi ini.

Pak Ibnu memandang ke arah belakangku sambil (lagi-lagi) menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ itu teman kamu, semua lagi ngeliatin kamu.” Ujarnya.

Aku menoleh kebelakang, dan terlihat kepala-kepala menyembul dari jendela samping kelasku, kepala Ditya, Ranca dan Reb terlihat paling depan, dan wajah mereka memerah menahan tawa. Teman sekelasku sedang menontonku dengan gratis.

“ Pak, kasian Meyana pak, lepasin pak.” Terdengar suara Reb teriak dengan nada yang sok sedih. 

Aku memutar kedua bola mataku, si kampret. Sungutku dalam hati.

Kemudian terdengar suara cekikikan lagi. Pak Ibnu melihat jam tangannya, dan kemudian beliau menghela nafasnya, “ Baiklah, Meyana. Silahkan kamu pergi ke kelas kamu sekarang dan ingat, tidak ada lagi hal seperti ini terjadi, oke?” ujarnya. Aku menganggukan kepalaku,

“ makasih pak, Pak Ibnu wali kelas saya yang paling baik!” ujarku. Kemudian aku berlari menuju kelasku.

Aku memelankan langkahku, dan menatap jejeran pintu kelas di samping kananku, kelas 3 IPS berbentuk L terbalik, 2  kelas di sisi kiri, 3 kelas di sebelah kanan.dan kelasku berada di sebelah kiri. Aku melihat pintu kelas IPS 4, terlihat beberapa cowok sedang asyik duduk di depannya. Leo salah satunya.

“ Meyana telat yaaaa..... ” terdengar suara Leo, dan kemudian ia tertawa. aku menjulurkan lidahku dan mengabaikannya. aku tidak butuh di olok-olok lagi.

“ Telat Mey?” sapa Gusti, anak kelas IPS 5. Dia bersama beberapa temannya mungkin baru saja kembali dari kantin belakang.

“ Iya, Gus. Untung gak dapet Ibu Ana,” jawabku pendek. Gusti tertawa kecil. Aku berjalan melewati bahunya.

“ Dirga! Itu ibu Sandra, kelas kamu masuk tuh!” suara Gusti terdengar lagi. Dan kali ini aku menoleh dengan cepat, mencari-cari seseorang yang aku dengar namanya.  seorang cowok berambut cepak berlari berbelok menuju kelas, aku hanya melihat bagian belakangnya, sedikit tinggi dan kurus. Rambut belakangnya acak-acakan. Dan baju seragam putihnya tidak dimasukkan. Dia yang namanya Dirga?

Aku sibuk berpikir dan menerka-nerka, kemudian rambutku ditarik pelan. aku mengaduh. Ditya meletakkan tangannya di bahuku, “ Mey, liatin siapa?”

Aku menoleh. Ranca dan Reb mengikuti pandanganku, dan kembali menatapku, menunggu jawabanku.

“ cowok.” Sahutku pendek.

Bola mata ketiga cowok berandal di depanku berbinar usil, kemudian mereka serentak menanyakan namanya. Aku menghela nafas dan mengangkat bahu, memutuskan untuk diam dan kemudian menerobos masuk kelas tanpa perduli ocehan mereka.

September, 2007.

Aku menyedot es melonku habis. Hari ini sangat panas, dan pelajaran matematika tadi membuatku gerah di kelas. Aku sedang duduk di depan kelas dengan Alila, teman sebangku ku yang cerewet. Alila sedang menceritakan rambutnya yang baru saja di luruskan, aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku tanpa antusias. Alila sering meluruskan rambut, ini sudah ketiga kali nya dalam beberapa bulan terakhir ia mencoba untuk meluruskan rambutnya, rambutnya memang panjang dan luruuuuusss sekali. alila memang tipe cewek yang memperhatikan penampilan di bagian kepalanya. Sedangkan aku? Aku hanya gadis SMA yang berambut panjang dan berponi, kadang di ikat tinggi jika hari sedang panas, seperti hari ini contohnya. Aku tidak perduli dengan keadaan rambutku, yang memang berantakan jika sudah jam-jam akhir sekolah. Terdengar suara ribut-ribut di koridor sebelah, aku yakin dalam beberapa detik akan muncul 3 hidung manusia ribut di depanku.

“ Nca, bagi rokoknya!” terdengar suara serak Reb.

“ beli sendiri! Ini aja tadi ngemis-in Meyana buat beli sebatang.” Sahut Ranca.

Tuhkan benar dugaanku. Ranca, Reb dan Ditya melangkah ke kelas.

“ Eh, ada Meyana dan Alila. Tumben gak ke kantin belakang?” ditya duduk di sampingku, sambil menyampirkan lengannya di bahuku.

“ males, di belakang ribut. Aku lagi butuh ketenangan.” Sahutku.

Ranca menoyor kepalaku pelan, “ Gaya mu selangit, Mey. Biasa juga doyan sama yang ribut-ribut.” Aku hanya nyengir.

Kemudian serombongan cowok lewat di depan kami, beberapa menyapa Ranca dan Ditya, terdengar celotehan khas cowok.

“ Nca, itu yang lewat tadi anak kelas berapa sih?” tanyaku. ranca yang sedang asik mengutak-atik hape nya mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah serombongan cowok tadi.

“ IPS 5 deh kayaknya.” Jawabnya. “ beberapa IPS 4 deh, “ lanjutnya lagi.

Aku berpikir sebentar, kemudian entah hantu apa yang merasuki ku, aku berdiri dan melangkah menuju kelas IPS 4.

Koridor kelas 3 sedang ramai, beberapa duduk di depan kelas sambil berkipas-kipas ria atau hanya sekedar mengobrol biasa. Aku melangkahkan kaki ku masuk ke kelas IPS 4, catnya berwarna biru gelap dan lukisan grafitti di dinding belakang terlihat jelas. Kemudian mataku mencari-cari sosok yang aku kenal, beberapa menyapaku. Aku menghampiri Die teman sekelasku di kelas dua sedang serius mengerjakan sesuatu di mejanya.

“ Di,”

Die menoleh dan menatapku heran, “ Mey? Tumben kesini. Kenapa?” tanyanya.

Aku menoleh ke sekeliling, “ Yang namanya Dirga yang mana sih?” aku berbisik.

Die mengangkat sebelah alisnya, kemudian ia menoleh ke belakang dan sekeliling kelas.

“ Dirga .... hmmmmm ... “

Aku ikut-ikutan menoleh sekeliling, seolah-olah tahu manusia seperti apa yang aku cari.

“ Dirga itu sering bolos, Mey. Kayaknya dia lagi gak sekolah, tadi pagi sih ada. “ jawab Die.

Aku hanya diam dan meringis kecil.

“ Kenapa emang? Kamu cari-cari Dirga?”

“  Ganteng gak sih orangnya?” tanyaku. Die terbahak kemudian menoyor kepalaku pelan,

“ kamu itu ya, kalo cowok ganteng radarnya cepet. Dasar usil. Gak tau ah, menurut aku Dirga sih biasa aja, putih doang sih.” Ujarnya.

“ yah, ya udah deh. Aku balik ke kelas aja kalo gitu, bye Mi.”

Aku keluar dan kembali ke kelasku. Aku lupa belum selesai mengerjakan essay sejarahku.

September, 2007.

Aku mengibaskan tanganku, berusaha menghindar dari asap rokok yang dengan santainya menghembus di depanku. Reb dengan wajah songongnya sedang duduk didepanku, sambil sengaja menghembuskan asap rokoknya banyak-banyak di hadapanku. 

“ Kamu bete ya?” Reb bertanya sok tau.
“ kamu lagi dapet Mey?” Ranca yang sedang duduk di sampingku ikut-ikutan sok tau.
“ kamu kangen aku ya Mey?” Ditya ikut nimbrung dengan pertanyaannya yang gak nyambung.

Aku hanya diam. Punya sahabat dekat seperti mereka membuatku harus banyak bersabar, segala tingkah absurd dan menyebalkan pernah ku rasakan dari mereka. Entah dari ketolol-an Reb yang nyeleneh, atau Ranca yang sok cuek tapi menyebalkan, atau Ditya yang sok manja dan sok paling ngerasa di sayang. Anehnya selama ini aku tahan-tahan saja berteman dan nongkrong dengan mereka, dengan segala tingkah konyol dan bonus asap rokok mereka.

“ Mey, dapet salam dari anak kelas ips sebelah tuh.” Ujar Ranca sambil menahan tawa.

Aku melirik, Reb dan Ditya ikut-ikutan tertawa.

“ Siapa?”
“ ganteng dah pokoknya,”
“ kalo kamu bilang gitu, pasti aslinya gak bagus.” Sahutku pendek. Ditya tertawa keras.
“ ngomong-ngomong, Leo mana ya ? kok gak keliatan.” Reb menoleh sekeliling kantin.

“ dia sering bolos sekarang. Atau tanya Die aja tuh, dia kan sekretaris kelas, pegang absen, pasti dia tau Leo kemana.” Ranca mengarahkan dagunya ke pintu masuk kantin, Die memasuki kantin, dan tersenyum saat melihatku.

“ Meyanaaaaa..” sapanya nyaring. “ Itu yang kamu cari ada di kelas tuh tadi, “ ujarnya tiba-tiba. Ekspresi ku berubah. Bahaya kalo Die sampai ngomongin soal Dirga di depan mahluk-mahluk ini.

“ Oh, iya gitu? Nanti aja deh dibahas, Ye. Kamu ngapain? Mau beli minum?” tanyaku mengalihkan. Wajah die terlihat bingung, “ i .. iya.” Jawabnya kemudian.

“ habis itu mau kemana? Balik kelas ngga? Barengan ya.” Usulku. Die mengangguk, dan kemudian pergi membeli minumnya.

Aku bisa melihat wajah Ranca, Ditya dan Reb. Wajah mereka terlihat bingung dan penasaran sekaligus.

“  Mey, kita kan mau bolos pelajaran matematika. Kok kamu balik ke kelas sih?” Reb mengingatkan ku.

“ kamu kenapa sih, Mey? “

“ aduh, kalian kenapa sih sibuk bener. Ya aku tetep bolos, Cuma mau ngambil hape aja tadi ketinggalan di laci kelas. Udah ah, bentar doang ini. jangan kayak kehilangan aku selamanya gitu deh,” ujarku menggoda. Mereka kemudian mencibirku.

Die muncul di sampingku dan menggandengku, kami keluar kantin dan berjalan menuju kelasnya.

“ Dirga ada di kelas nih?” tanyaku. Die mengangguk, “ iya. Udah beberapa hari ini sih ada mulu, Cuma akunya aja yang lupa ngabarin kamu.”

Aku hanya ber “Oh..” pelan. kami semakin mendekati kelas, dan aku semakin penasaran bagaimana rupa Dirga.

Die mendadak berhenti. “ Tuh, yang itu. Cowok yang lagi berdiri di depan meja dekat pintu, di samping Alif, “ die menunjuk ke arah depan pintu. Aku kenal Alif, dia teman sekelasku di kelas dua.

“ dia ngadep ke sana  mulu, gak liat mukanya ah.” Protesku.

Die menarik tanganku, kami melewati pintu dan saat itu pula Dirga menoleh. Rambut cepak pendek, dan ia menatapku. Alisnya tebal dan bentuknya sempurna, bulu mata lentik membingkai kedua matanya, kulitnya putih untuk ukuran cowok, wajahnya baby face. Lucu dan sangat kekanak-kanakan. Ia menatapku sebentar, dan aku hanya diam. Tak berniat untuk menyunggingkan sedikit senyum kepadanya.

“ Mey.” Sapa Alif. Aku hanya mengangguk pelan, dan kemudian melepaskan pegangan Die.

“ Ye, aku balik ya, bentar bel nih. Makasih ya.” Ucapku.

Die menatapku bingung. Aku secepat kilat pergi dari kelas itu. Di otakku teringat kata-kata diena soal betapa imutnya Dirga, dan ia benar. Dirga lucu. Wajahnya seperti anak-anak. Dan, anehnya setelah melihat wajahnya aku merasa biasa saja. Tidak ada lagi rasa penasaran seperti kemarin-kemarin. Di benakku dia hanyalah Dirga. Sudah, begitu saja.


 Oktober,  2007.

Aku sedang menghapal materi ulangan harian bahasa inggris di depan kelas bersama Alila saat Dirga lewat dengan beberapa teman kelasnya. Iya mengenakan jaket hoodie hitam. Saat itu hari memang sedang hujan. Aku hanya bisa melihatnya, tanpa ingin untuk menyapanya.

November, 2007.

Diena menelfonku dan curhat soal Leo yang tidak suka soal dia berkumpul dengan teman-teman cowoknya. Aku hanya bilang bahwa bukan salah Leo jika Leo cemburu. Dan Diena baru saja cerita bahwa ia bertemu Dirga tadi malam. Ternyata teman-teman Diena adalah teman-teman Dirga juga. Dan menurutku sangat wajar jika Leo melarang Diena berkumpul dengan teman-teman cowoknya.

Desember, 2007.

Sebentar lagi HUT sekolah. Dan sekarang anak-anak kelas sedang heboh menyaksikan pertandingan futsal di lapangan. Aku duduk di bawah pohon sambil menyedot es kelapa ku. Ranca, Ditya dan Reb menghilang entah kemana. Hanya Alila dan beberapa temen cewek sekelasku di sini. Kemudian saat orang-orang didepanku berteriak kencang (mungkin ada gol atau sesuatu ) mataku menangkap Dirga. Dirga baru saja keluar dari gerbang masuk koridor dalam sekolah, ia mengenakan baju olahraga dan menenteng tas ranselnya. Wajahnya sedikit memerah, dan ia tengah asik ngobrol dengan beberapa temannya. Hanya itu saja, dan kemudian aku kembali konsen dengan plastik es kelapaku.

Februari, 2008.

Kami sedang ujian praktek. Dan hari ini adalah praktek olahraga, setelah senam di Aula, Pak Robert menggiring kami ke lapangan blok sebelah, kami harus berjalan beberapa ratus meter menuju kesana. Lapangan bola rumput yang agak sempit dan di kelilingi rumah-rumah penduduk. Praktek hari ini dilanjutkan dengan berlari keliling lapangan selama 5 kali. Aku benci berlari. Aku benci rasa pegal-pegal di kaki setelahnya. Reb menggodaku, berkata bahwa aku akan pingsan setelah putaran kedua ku. Ranca lebih kurang ajar lagi, ia bertaruh lima ribu bahwa setelah setengah putaran aku akan menyerah, si kampret, sungutku dalam hati. Hanya Ditya yang memberi ku semangat, Ditya memang pintar mengambil hati.

“ eh itu rumahnya Darwin bukan sih?” tanya Reb tiba-tiba. Aku menoleh dan melihat ke arah rumah yang ditunjuk Reb, kulihat Darwin disitu. Dengan beberapa temannya. Darwin adalah teman sekelasku.

“ iya, anak-anak kelas lain sering bolosnya disitu spotnya enak , deket sekolah.” sahut Alila nimbrung. Kami mengangguk-angguk.  

aku memperhatikan rumahnya, banyak tanaman di depannya. Dan pandanganku terhenti, disana, kulihat dia. Dirga. Duduk diam melihat kami atau entah apapun di dekat kami, kulihat ada sebatang rokok terselip di jari-jari tangan kanannya.

“ itu lagi pada bolos ya?” tanyaku pelan.

“ kamu belum lari otaknya udah agak gak beres ya Mey? Ini kan jam istirahat.  Itu mereka emang pada sering nongkrong di situ” Jawab Reb.

Aku menginjak kakinya. “ iye!” sahutku ketus.

Aku menoleh lagi. Menatap Dirga dari sini. Entah kapan aku berani menyapanya.

Maret, 2008.

Aku melihat Dirga datang terlambat. Saat itu sudah jam kedua, dan ia lewat di koridor samping kelasku, tepat saat aku sedang pindah duduk ke kursi Ditya di belakang. Aku melihatnya lewat sambil menenteng tasnya. Sendirian.

April , 2008.

Hari-hari ku padat. Sekolah masuk sampai jam 12, kemudian lanjut try out jam 2-5 sore. Setelah itu, malamnya jam 7 – 9 aku harus bimbingan belajar setiap hari. Dan aku tidak pernah melihat Dirga lagi, karena aku selalu berdiam di kelas dan menolak semua ajakan Reb, Ditya dan Ranca ke kantin belakang. Buatku , Dirga hanya Dirga. Hanya ku lihat jika ia kebetulan lewat saat sedang terlihat, aku tak pernah berniat mencari-carinya lagi.

Akhir April, 2008.

Ujian Sekolah. Aku di dekatin oleh teman sekelasku yang bahkan aku baru tau rupanya saat sudah akhir semester, betapa kurang ajarnya aku sebagai teman. Alila memaki ku saat aku bertanya yang mana orangnya, dan Alila bilang selama try out cowok itu duduk persis di sebelah kananku. Aku menyeringai dan hanya bilang kalau aku tidak memperhatikan siapapun jika ia tidak menegurku terlebih dahulu. Kecuali Dirga, tentunya. Aku mencari Dirga, sebenarnya. Dan ya, itu tahun lalu.



--- bersambung ----