Wednesday, May 22, 2013

You and me . (part 1 )


Oktober, 2007.

“ dia lucu, dan aku suka liat dia, manis.” Ujar Diena kepadaku sore itu saat kami sedang duduk santai di teras rumahku. Diena sedang menunggu Leo, teman dekatku yang juga pacarnya. Aku mengunyah bakso ku, hanya mengangguk-anggukkan kepalaku. Entah aku tidak begitu perduli dengan cerita Diena soal mantan pacarnya yang dia sayangi banget itu. Aku baru 2 minggu kenal dengan Diena, dia gadis yang manis, rambutnya hitam sebahu, dan dia sangat suka bercerita. Bercerita apa saja, dan sekarang dia sedang menceritakan soal mantannya tanpa merasa bersalah, padahal dia tau aku dan Leo adalah teman dekat.

“ aku putusan juga sempat down dan sakit hati, aku sayang banget sih sama dia.” Diena melanjutkan omongannya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku, dan kali ini ganti mengunyah mie baksoku.

“ Dirga itu baik, dan simple. Dia gak neko-neko deh. Oh ya, aku nyumpah-nyumpahin dia pokoknya waktu itu, habis aku kesel di putusin.” Diena mengibaskan rambutnya, aku melongo, ya menurut lo? Emang ada gitu yang seneng di putusin? Kataku dalam hati.

“ kamu kenal sama dia kok, Mey.” 

Aku menelan potongan terakhir bakso ku, “ oyah?” sahutku pendek.

“ iya, dia beda kelas. Kamu IPS 2 ya? Dia itu.. hmmm kalo gak salah IPS 4 deh.”

Hening. Aku memijit-mijit pelipisku, “ Dien, itu kan kelasnya Leo, bearti mantan kamu itu sekelas sama Leo yang sekarang jadi pacar kamu?” tanyaku. Diena mengangguk dengan senyum sumringah.

Tolol . batinku lagi, malah senyum-senyum sumringah.

“ Iya, aneh ya? Hihihi. Leo tau kok soal Dirga. Dan dia kalem aja tuh, “

Oh jadi nama cowok yang dipuja-puja Diena itu Dirga. Dirga , eh Dirga yang mana ya?

“ kamu kenal Dirga gak Mey? Anaknya manis loh, cakep deh pokoknya. Aku sayang banget deh sama dia, dulu nya sih. Tapi beneran, dia manisssss banget.”

“ biasanya kalo cowok cakep sih aku tau, tapi gak pernah denger yang namanya Dirga deh. Anak baru?” tanyaku. Diena menggeleng. “ dia jarang sih sekolah, dia kan doyan bolos.”

“ sama dong kayak Leo,” sahutku pendek sambil membereskan mangkok-mangkok bakso di hadapanku, dan mengembalikan nya ke mamang bakso langgananku.

“ Iya sih, tapi dia lebih sering lagi. Mey, kamu harus liat orangnya deh, pasti kamu naksir!” teriak Diena dari teras.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku heran. Absurd abis nih cewek, gak nyadar apa daritadi nyerocos soal mantannya di depan temen deket Leo? Err.

“ tuh ada Leo tuh, “ ujarku. Dagu ku menunjuk ke jalan di depan rumahku. Diena bergegas membereskan  barangnya dan mendatangi ku yang sedang berdiri di depan pagar, sambil  memelukku cepat dan mencium pipi ku.

“ Mey, diem-diem ya soal Dirga.” Ujarnya. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku asal. Leo berhenti di depanku, “ udah selesai nge-bakso nya Mey?” tanya nya. Aku mengangguk.

“ Masa sih? Itu baksonya masih ada di mulut kamu ya? Pipi kamu gendut gitu. “ sontak aku memegang pipiku.

“ OH, bukan. Itu kan memang pipi kamu begitu ya.” Lanjutnya lagi.

Aku menoyor kepalanya, Diena tertawa-tawa di belakang Leo.

“ pulang ya, Mey.” Pamitnya.

“ IYA, SANA PULANG LU.” Sahutku judes. Leo nyengir dan kemudian ia pergi.

Aku membalikkan tubuhku ke rumah, berjalan pelan sambil memikirkan satu nama. Dirga.

Akhir Bulan Oktober, 2007.

Aku berlari menyusuri jalan masuk sekolahku, bel sudah berbunyi 10 menit lalu. Sialan, dumelku dalam hati. Gara-gara harus kembali mengambil tugas Sosiologi yang ketinggalan jadi telat begini. Aku terengah-engah. Sambil membuka jaket, aku mengintip sedikit ke koridor depan, persis melewati ruang BK. Lewat BK jam segini adalah musibah, bisa kena omelan bonus hukuman. Aku jalan mengendap-endap dan sebisa mungkin terlihat santai, terlihat ibu Ana sedang memeriksa beberapa kertas, dan ia membelakangi pintu masuknya. Aku menghela nafas lega saat berhasil melewati ruang BK, meja piket masih kosong. Sekolahan sedikit sepi, semua sudah berada dikelas masing-masing. Kelasku berada di ujung belokan. Dan sebelum belokan, aku harus melewati pintu samping ruang dewan guru, dan itu adalah musibah nomer dua hari ini.

“ Meyana Ariyani Kayantari.” Terdengar suara berat memanggilku. Langkah ku terhenti, dan aku membalikkan tubuhku sepelan mungkin.

“ dalam minggu ini kamu sudah terlambat 3 kali,”

Pak Ibnu berjalan  menghampiriku, aku memasang senyum terbaikku.

“ maaf Pak, tadi buku tugasnya ketinggalan, jadi telat.” Ujarku. Pak Ibnu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ dan kamu jarang ada waktu absen wali kelas, kamu tahu kan Meya? Jam 7.15 bel sudah berbunyi, dan saat itu guru masing-masing kelas akan masuk dan mengabsen, 7.30 bel kedua berbunyi, dan itu tanda kalo pelajaran sudah siap di mulai. Dan ini sudah nyaris 15 menit setelah bel kedua kamu baru datang dan senyum cengengesan di sini.” Omel pak Ibnu.

“ tapi Pak ... “

“ kamu ini, saya kasih tau begini masih saja berusaha ngeles, saya selama ini tidak meng-alpa kamu di absen pagi karena saya tau kamu selalu ada, tapi kali ini sudah ketiga-kalinya kamu begini,”

Aku menghela nafas pasrah, menghadapi wali kelas yang lagi sensi adalah kutukan buatku pagi ini.

Pak Ibnu memandang ke arah belakangku sambil (lagi-lagi) menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ itu teman kamu, semua lagi ngeliatin kamu.” Ujarnya.

Aku menoleh kebelakang, dan terlihat kepala-kepala menyembul dari jendela samping kelasku, kepala Ditya, Ranca dan Reb terlihat paling depan, dan wajah mereka memerah menahan tawa. Teman sekelasku sedang menontonku dengan gratis.

“ Pak, kasian Meyana pak, lepasin pak.” Terdengar suara Reb teriak dengan nada yang sok sedih. 

Aku memutar kedua bola mataku, si kampret. Sungutku dalam hati.

Kemudian terdengar suara cekikikan lagi. Pak Ibnu melihat jam tangannya, dan kemudian beliau menghela nafasnya, “ Baiklah, Meyana. Silahkan kamu pergi ke kelas kamu sekarang dan ingat, tidak ada lagi hal seperti ini terjadi, oke?” ujarnya. Aku menganggukan kepalaku,

“ makasih pak, Pak Ibnu wali kelas saya yang paling baik!” ujarku. Kemudian aku berlari menuju kelasku.

Aku memelankan langkahku, dan menatap jejeran pintu kelas di samping kananku, kelas 3 IPS berbentuk L terbalik, 2  kelas di sisi kiri, 3 kelas di sebelah kanan.dan kelasku berada di sebelah kiri. Aku melihat pintu kelas IPS 4, terlihat beberapa cowok sedang asyik duduk di depannya. Leo salah satunya.

“ Meyana telat yaaaa..... ” terdengar suara Leo, dan kemudian ia tertawa. aku menjulurkan lidahku dan mengabaikannya. aku tidak butuh di olok-olok lagi.

“ Telat Mey?” sapa Gusti, anak kelas IPS 5. Dia bersama beberapa temannya mungkin baru saja kembali dari kantin belakang.

“ Iya, Gus. Untung gak dapet Ibu Ana,” jawabku pendek. Gusti tertawa kecil. Aku berjalan melewati bahunya.

“ Dirga! Itu ibu Sandra, kelas kamu masuk tuh!” suara Gusti terdengar lagi. Dan kali ini aku menoleh dengan cepat, mencari-cari seseorang yang aku dengar namanya.  seorang cowok berambut cepak berlari berbelok menuju kelas, aku hanya melihat bagian belakangnya, sedikit tinggi dan kurus. Rambut belakangnya acak-acakan. Dan baju seragam putihnya tidak dimasukkan. Dia yang namanya Dirga?

Aku sibuk berpikir dan menerka-nerka, kemudian rambutku ditarik pelan. aku mengaduh. Ditya meletakkan tangannya di bahuku, “ Mey, liatin siapa?”

Aku menoleh. Ranca dan Reb mengikuti pandanganku, dan kembali menatapku, menunggu jawabanku.

“ cowok.” Sahutku pendek.

Bola mata ketiga cowok berandal di depanku berbinar usil, kemudian mereka serentak menanyakan namanya. Aku menghela nafas dan mengangkat bahu, memutuskan untuk diam dan kemudian menerobos masuk kelas tanpa perduli ocehan mereka.

September, 2007.

Aku menyedot es melonku habis. Hari ini sangat panas, dan pelajaran matematika tadi membuatku gerah di kelas. Aku sedang duduk di depan kelas dengan Alila, teman sebangku ku yang cerewet. Alila sedang menceritakan rambutnya yang baru saja di luruskan, aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku tanpa antusias. Alila sering meluruskan rambut, ini sudah ketiga kali nya dalam beberapa bulan terakhir ia mencoba untuk meluruskan rambutnya, rambutnya memang panjang dan luruuuuusss sekali. alila memang tipe cewek yang memperhatikan penampilan di bagian kepalanya. Sedangkan aku? Aku hanya gadis SMA yang berambut panjang dan berponi, kadang di ikat tinggi jika hari sedang panas, seperti hari ini contohnya. Aku tidak perduli dengan keadaan rambutku, yang memang berantakan jika sudah jam-jam akhir sekolah. Terdengar suara ribut-ribut di koridor sebelah, aku yakin dalam beberapa detik akan muncul 3 hidung manusia ribut di depanku.

“ Nca, bagi rokoknya!” terdengar suara serak Reb.

“ beli sendiri! Ini aja tadi ngemis-in Meyana buat beli sebatang.” Sahut Ranca.

Tuhkan benar dugaanku. Ranca, Reb dan Ditya melangkah ke kelas.

“ Eh, ada Meyana dan Alila. Tumben gak ke kantin belakang?” ditya duduk di sampingku, sambil menyampirkan lengannya di bahuku.

“ males, di belakang ribut. Aku lagi butuh ketenangan.” Sahutku.

Ranca menoyor kepalaku pelan, “ Gaya mu selangit, Mey. Biasa juga doyan sama yang ribut-ribut.” Aku hanya nyengir.

Kemudian serombongan cowok lewat di depan kami, beberapa menyapa Ranca dan Ditya, terdengar celotehan khas cowok.

“ Nca, itu yang lewat tadi anak kelas berapa sih?” tanyaku. ranca yang sedang asik mengutak-atik hape nya mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah serombongan cowok tadi.

“ IPS 5 deh kayaknya.” Jawabnya. “ beberapa IPS 4 deh, “ lanjutnya lagi.

Aku berpikir sebentar, kemudian entah hantu apa yang merasuki ku, aku berdiri dan melangkah menuju kelas IPS 4.

Koridor kelas 3 sedang ramai, beberapa duduk di depan kelas sambil berkipas-kipas ria atau hanya sekedar mengobrol biasa. Aku melangkahkan kaki ku masuk ke kelas IPS 4, catnya berwarna biru gelap dan lukisan grafitti di dinding belakang terlihat jelas. Kemudian mataku mencari-cari sosok yang aku kenal, beberapa menyapaku. Aku menghampiri Die teman sekelasku di kelas dua sedang serius mengerjakan sesuatu di mejanya.

“ Di,”

Die menoleh dan menatapku heran, “ Mey? Tumben kesini. Kenapa?” tanyanya.

Aku menoleh ke sekeliling, “ Yang namanya Dirga yang mana sih?” aku berbisik.

Die mengangkat sebelah alisnya, kemudian ia menoleh ke belakang dan sekeliling kelas.

“ Dirga .... hmmmmm ... “

Aku ikut-ikutan menoleh sekeliling, seolah-olah tahu manusia seperti apa yang aku cari.

“ Dirga itu sering bolos, Mey. Kayaknya dia lagi gak sekolah, tadi pagi sih ada. “ jawab Die.

Aku hanya diam dan meringis kecil.

“ Kenapa emang? Kamu cari-cari Dirga?”

“  Ganteng gak sih orangnya?” tanyaku. Die terbahak kemudian menoyor kepalaku pelan,

“ kamu itu ya, kalo cowok ganteng radarnya cepet. Dasar usil. Gak tau ah, menurut aku Dirga sih biasa aja, putih doang sih.” Ujarnya.

“ yah, ya udah deh. Aku balik ke kelas aja kalo gitu, bye Mi.”

Aku keluar dan kembali ke kelasku. Aku lupa belum selesai mengerjakan essay sejarahku.

September, 2007.

Aku mengibaskan tanganku, berusaha menghindar dari asap rokok yang dengan santainya menghembus di depanku. Reb dengan wajah songongnya sedang duduk didepanku, sambil sengaja menghembuskan asap rokoknya banyak-banyak di hadapanku. 

“ Kamu bete ya?” Reb bertanya sok tau.
“ kamu lagi dapet Mey?” Ranca yang sedang duduk di sampingku ikut-ikutan sok tau.
“ kamu kangen aku ya Mey?” Ditya ikut nimbrung dengan pertanyaannya yang gak nyambung.

Aku hanya diam. Punya sahabat dekat seperti mereka membuatku harus banyak bersabar, segala tingkah absurd dan menyebalkan pernah ku rasakan dari mereka. Entah dari ketolol-an Reb yang nyeleneh, atau Ranca yang sok cuek tapi menyebalkan, atau Ditya yang sok manja dan sok paling ngerasa di sayang. Anehnya selama ini aku tahan-tahan saja berteman dan nongkrong dengan mereka, dengan segala tingkah konyol dan bonus asap rokok mereka.

“ Mey, dapet salam dari anak kelas ips sebelah tuh.” Ujar Ranca sambil menahan tawa.

Aku melirik, Reb dan Ditya ikut-ikutan tertawa.

“ Siapa?”
“ ganteng dah pokoknya,”
“ kalo kamu bilang gitu, pasti aslinya gak bagus.” Sahutku pendek. Ditya tertawa keras.
“ ngomong-ngomong, Leo mana ya ? kok gak keliatan.” Reb menoleh sekeliling kantin.

“ dia sering bolos sekarang. Atau tanya Die aja tuh, dia kan sekretaris kelas, pegang absen, pasti dia tau Leo kemana.” Ranca mengarahkan dagunya ke pintu masuk kantin, Die memasuki kantin, dan tersenyum saat melihatku.

“ Meyanaaaaa..” sapanya nyaring. “ Itu yang kamu cari ada di kelas tuh tadi, “ ujarnya tiba-tiba. Ekspresi ku berubah. Bahaya kalo Die sampai ngomongin soal Dirga di depan mahluk-mahluk ini.

“ Oh, iya gitu? Nanti aja deh dibahas, Ye. Kamu ngapain? Mau beli minum?” tanyaku mengalihkan. Wajah die terlihat bingung, “ i .. iya.” Jawabnya kemudian.

“ habis itu mau kemana? Balik kelas ngga? Barengan ya.” Usulku. Die mengangguk, dan kemudian pergi membeli minumnya.

Aku bisa melihat wajah Ranca, Ditya dan Reb. Wajah mereka terlihat bingung dan penasaran sekaligus.

“  Mey, kita kan mau bolos pelajaran matematika. Kok kamu balik ke kelas sih?” Reb mengingatkan ku.

“ kamu kenapa sih, Mey? “

“ aduh, kalian kenapa sih sibuk bener. Ya aku tetep bolos, Cuma mau ngambil hape aja tadi ketinggalan di laci kelas. Udah ah, bentar doang ini. jangan kayak kehilangan aku selamanya gitu deh,” ujarku menggoda. Mereka kemudian mencibirku.

Die muncul di sampingku dan menggandengku, kami keluar kantin dan berjalan menuju kelasnya.

“ Dirga ada di kelas nih?” tanyaku. Die mengangguk, “ iya. Udah beberapa hari ini sih ada mulu, Cuma akunya aja yang lupa ngabarin kamu.”

Aku hanya ber “Oh..” pelan. kami semakin mendekati kelas, dan aku semakin penasaran bagaimana rupa Dirga.

Die mendadak berhenti. “ Tuh, yang itu. Cowok yang lagi berdiri di depan meja dekat pintu, di samping Alif, “ die menunjuk ke arah depan pintu. Aku kenal Alif, dia teman sekelasku di kelas dua.

“ dia ngadep ke sana  mulu, gak liat mukanya ah.” Protesku.

Die menarik tanganku, kami melewati pintu dan saat itu pula Dirga menoleh. Rambut cepak pendek, dan ia menatapku. Alisnya tebal dan bentuknya sempurna, bulu mata lentik membingkai kedua matanya, kulitnya putih untuk ukuran cowok, wajahnya baby face. Lucu dan sangat kekanak-kanakan. Ia menatapku sebentar, dan aku hanya diam. Tak berniat untuk menyunggingkan sedikit senyum kepadanya.

“ Mey.” Sapa Alif. Aku hanya mengangguk pelan, dan kemudian melepaskan pegangan Die.

“ Ye, aku balik ya, bentar bel nih. Makasih ya.” Ucapku.

Die menatapku bingung. Aku secepat kilat pergi dari kelas itu. Di otakku teringat kata-kata diena soal betapa imutnya Dirga, dan ia benar. Dirga lucu. Wajahnya seperti anak-anak. Dan, anehnya setelah melihat wajahnya aku merasa biasa saja. Tidak ada lagi rasa penasaran seperti kemarin-kemarin. Di benakku dia hanyalah Dirga. Sudah, begitu saja.


 Oktober,  2007.

Aku sedang menghapal materi ulangan harian bahasa inggris di depan kelas bersama Alila saat Dirga lewat dengan beberapa teman kelasnya. Iya mengenakan jaket hoodie hitam. Saat itu hari memang sedang hujan. Aku hanya bisa melihatnya, tanpa ingin untuk menyapanya.

November, 2007.

Diena menelfonku dan curhat soal Leo yang tidak suka soal dia berkumpul dengan teman-teman cowoknya. Aku hanya bilang bahwa bukan salah Leo jika Leo cemburu. Dan Diena baru saja cerita bahwa ia bertemu Dirga tadi malam. Ternyata teman-teman Diena adalah teman-teman Dirga juga. Dan menurutku sangat wajar jika Leo melarang Diena berkumpul dengan teman-teman cowoknya.

Desember, 2007.

Sebentar lagi HUT sekolah. Dan sekarang anak-anak kelas sedang heboh menyaksikan pertandingan futsal di lapangan. Aku duduk di bawah pohon sambil menyedot es kelapa ku. Ranca, Ditya dan Reb menghilang entah kemana. Hanya Alila dan beberapa temen cewek sekelasku di sini. Kemudian saat orang-orang didepanku berteriak kencang (mungkin ada gol atau sesuatu ) mataku menangkap Dirga. Dirga baru saja keluar dari gerbang masuk koridor dalam sekolah, ia mengenakan baju olahraga dan menenteng tas ranselnya. Wajahnya sedikit memerah, dan ia tengah asik ngobrol dengan beberapa temannya. Hanya itu saja, dan kemudian aku kembali konsen dengan plastik es kelapaku.

Februari, 2008.

Kami sedang ujian praktek. Dan hari ini adalah praktek olahraga, setelah senam di Aula, Pak Robert menggiring kami ke lapangan blok sebelah, kami harus berjalan beberapa ratus meter menuju kesana. Lapangan bola rumput yang agak sempit dan di kelilingi rumah-rumah penduduk. Praktek hari ini dilanjutkan dengan berlari keliling lapangan selama 5 kali. Aku benci berlari. Aku benci rasa pegal-pegal di kaki setelahnya. Reb menggodaku, berkata bahwa aku akan pingsan setelah putaran kedua ku. Ranca lebih kurang ajar lagi, ia bertaruh lima ribu bahwa setelah setengah putaran aku akan menyerah, si kampret, sungutku dalam hati. Hanya Ditya yang memberi ku semangat, Ditya memang pintar mengambil hati.

“ eh itu rumahnya Darwin bukan sih?” tanya Reb tiba-tiba. Aku menoleh dan melihat ke arah rumah yang ditunjuk Reb, kulihat Darwin disitu. Dengan beberapa temannya. Darwin adalah teman sekelasku.

“ iya, anak-anak kelas lain sering bolosnya disitu spotnya enak , deket sekolah.” sahut Alila nimbrung. Kami mengangguk-angguk.  

aku memperhatikan rumahnya, banyak tanaman di depannya. Dan pandanganku terhenti, disana, kulihat dia. Dirga. Duduk diam melihat kami atau entah apapun di dekat kami, kulihat ada sebatang rokok terselip di jari-jari tangan kanannya.

“ itu lagi pada bolos ya?” tanyaku pelan.

“ kamu belum lari otaknya udah agak gak beres ya Mey? Ini kan jam istirahat.  Itu mereka emang pada sering nongkrong di situ” Jawab Reb.

Aku menginjak kakinya. “ iye!” sahutku ketus.

Aku menoleh lagi. Menatap Dirga dari sini. Entah kapan aku berani menyapanya.

Maret, 2008.

Aku melihat Dirga datang terlambat. Saat itu sudah jam kedua, dan ia lewat di koridor samping kelasku, tepat saat aku sedang pindah duduk ke kursi Ditya di belakang. Aku melihatnya lewat sambil menenteng tasnya. Sendirian.

April , 2008.

Hari-hari ku padat. Sekolah masuk sampai jam 12, kemudian lanjut try out jam 2-5 sore. Setelah itu, malamnya jam 7 – 9 aku harus bimbingan belajar setiap hari. Dan aku tidak pernah melihat Dirga lagi, karena aku selalu berdiam di kelas dan menolak semua ajakan Reb, Ditya dan Ranca ke kantin belakang. Buatku , Dirga hanya Dirga. Hanya ku lihat jika ia kebetulan lewat saat sedang terlihat, aku tak pernah berniat mencari-carinya lagi.

Akhir April, 2008.

Ujian Sekolah. Aku di dekatin oleh teman sekelasku yang bahkan aku baru tau rupanya saat sudah akhir semester, betapa kurang ajarnya aku sebagai teman. Alila memaki ku saat aku bertanya yang mana orangnya, dan Alila bilang selama try out cowok itu duduk persis di sebelah kananku. Aku menyeringai dan hanya bilang kalau aku tidak memperhatikan siapapun jika ia tidak menegurku terlebih dahulu. Kecuali Dirga, tentunya. Aku mencari Dirga, sebenarnya. Dan ya, itu tahun lalu.



--- bersambung ----


No comments:

Post a Comment