"Dunia ini gak adil." sungut Citra. Gadis cantik berambut panjang yang hidupnya dihabiskan dengan mengeluh dan menuduh dunia ini tidak ada keadilan.
"Kenapa?" tanyaku.Aku menyeruput es cokelat-ku habis. terdengar suara berisik dari dasar gelas.
" paketan data si merah semakin mahal, udah dibeliin tetep aja lelet."
aku tersedak es batu.
"Penting banget ya, Cit." Geisha menimpali. Citra memasang tampang cemberut.
"Iya ini penting, Ges. Banget." Geisha hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. " Paketan data diperhatiin, itu loh pacar kamu, apa kabar?" sindirnya.
Citra nyengir lebar, memamerkan giginya yang dipasangi kawat berwarna biru tosca.
"Baik. Kabarnya pacarku lagi kerja. dan beliau sudah makan siang. barusan nge-cek." sahutnya bangga.
" Selingkuhanmu apa kabar, Ges? Sehat? Belom ketemu sama pacar sah kamu?" balas Citra. Geisha, cewek-paling-sadar-kalo-dirinya-cantik-dan-dipuja hanya tertawa sambil menjitak kepala Citra. "Kampret." sungutntya.
Aku tertawa melihat tingkah dua sahabatku. Kami sedang santai di sebuah kafe di pinggiran jalan. Bangunan tua yang disulap menjadi tempat bercengkrama yang hangat. Aroma cokelat dan kopi yang khas menguar dimana-mana, menciptakan suasana hangat dan tenang. Satu lagi, kafe ini tidak terlalu ramai, karena itu kami menyukainya. Citra duduk di sebelahku sambil menyandarkan badannya dan asyik bermain dengan gadgetnya, Geisha sahabatku yang satu lagi sedang asyik mengetik sesuatu di laptop nya, mungkin menulis untuk novelnya yang baru. Air hujan meneteskan rintiknya di jendela besar didepan kami, menyisakan garis-garis air dan mengaburkan pandangan. Aku melamun menatap jendela, menghitung bulir-bulir air hujan yang jatuh.
Bintang Ergadiansyah.
Kamu dimana? Kamu sedang apa?
Sudah lama ya kamu tidak ada disampingku. Biasanya kamu selalu ada. Nemenin aku disini. duduk berjam-jam dengerin semua celotehan ku, sambil sesekali berdebat dan bertengkar kecil, sampai akhirnya kamu menarikku ke pelukanmu, karena lelah menghadapi perempuan yang selalu membalas setiap kata-katamu.
kamu tahu? Aku rindu. Mungkin aku selalu mengirimkan pesan pendekku untukmu, dengan kata-kata yang itu-itu saja, "Bintang, aku kangen." kamu pasti bosan membacanya. Aku tahu kamu pergi untuk bekerja, untuk menjadi lelaki sukses dan yang bisa keluarga mu banggakan, dan aku sangat mendukung semuanya. Tapi apa kamu tahu? Setiap malam aku selalu bertanya-tanya kapan kita bisa bertemu, kapan kamu kembali, dan kapan kamu bisa terus ada disampingku.Oke, ini terdengar egois, tapi bolehkan aku berharap seperti itu? Kadang aku tidak sekuat dan setegar yang kamu pikirkan. Berharap kamu pulang dan memelukku seperti biasa.
Kamu sudah makan? Kamu pake jaketkan?
Aku selalu berpikir apa kamu sehat-sehat saja, apakah makanmu teratur atau apakah kamu tidur dengan cukup. Aku harap kamu sehat selalu, Bin.Meskipun kamu selalu mengeluh dengan sikapku yang cuek dan tidak ada manis-manisnya untukmu. Hahaha. Iyakan? Tapi beginilah aku. Caraku menyayangimu. Mungkin kamu merasa bahwa aku perempuan aneh yang tidak peka. Tapi beginilah aku. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar kamu selalu bahagia, agar Dia memberimu kemudahan disetiap kesulitan yang kamu temui, agar kamu selalu sehat, agar tidurmu nyenyak, agar hatimu dijaga hanya untukku. Caraku menyayangimu dengan selalu mendoakan mu, mengharap yang terbaik untukmu. Aku percaya, meskipun kita jauh, aku bisa tetap selalu memelukmu dengan doaku.
Mungkin aku bukan orang yang religius, tapi aku percaya dengan adanya kekuatan doa. Aku percaya bahwa tujuan baik akan dimudahkan dan mendapat hasil yang baik pula.
Berdoa yang baik. Berprasangka baik. Semoga Tuhan mengabulkan setiap doa kita ya, Amin.
" Drianna? "
aku tersentak. Citra menatapku lembut, sentuhannya ditanganku menyadarkanku.
"i-iya." suaraku terdengar parau.
" Kamu nangis?" tanya Geisha. Aku mengerjap, dan mengusap pipiku yang sedikit basah. Mataku sedikit kabur. Aku menggelengkan kepalaku sambil mengambil tissue.
"Kamu kangen Bintang ya?" Citra memeluk bahuku. Aku hanya mengangguk pelan.
"si Bintang gak ada kabarnya?". Lagi-lagi aku mengangguk.
"Dia pasti baik-baik aja, kamu percaya deh, Dri. Bintang kan kuat, itukan yang selalu kamu bilang."Citra berusaha menghiburku.
" Iya. Dia baik-baik aja. Pasti." Geisha menepuk bahuku pelan.
"Hidup ini adil loh, Dri. Kamu kesepian gak ada Bintang, masih ada aku dan Geisha yang nemanin kamu. " ujar Citra. Aku tertawa kecil mendengarnya, dan kemudian Geisha memeluk kami berdua.
Mereka memberiku sedikit kekuatan untuk bisa tetap kuat, aku bersyukur mempunyai dua sahabat seperti mereka. Dua orang yang selalu mengerti ku, dua orang yang paham kapan waktunya untuk berbicara dan kapan waktunya untuk diam mendengarkan. Dua orang yang selalu menemani ku disaat aku kesepian. Dua orang yang mengisi langitku ketika tidak ada Bintang.
I miss you, Dy.
Sunday, December 21, 2014
ily, Dy
" i love you." ucapku.
Kamu hanya tersenyum dan mencium keningku sekilas, tak berucap apa-apa.
Sesederhana itu. Sesederhana itu aku tahu perasaanmu.
" Aku minta maaf."
Kamu menatap ku marah dan memalingkan wajahmu. tak berucap apa-apa. sedikit senyum terukir di bibirmu. Senyuman sinis.
Sesederhana itu. Sesederhana itu aku tahu perasaanmu.
"Kamu sakit?" tanyaku.
Kamu menggeleng. Tapi aku bisa melihat wajah pucat mu. Rambutmu yang berantakan, dan rambut halus disekitar dagu mu. Tanda bahwa kamu tidak bercukur dan lupa untuk mengurus dirimu.
Sesederhana itu. Sesederhana itu aku tahu aku menyakiti mu.
"Aku bisa apa?" tanyaku. Pertanyaan bodoh yang sering kulontarkan jika kita berada diujung pertengkaran.
Dan kamu menjawab. "Gak. Kamu gak perlu berbuat apa-apa."
"Kamu maunya apa?" tanyaku lagi.
" Gak ada. " sahutmu. Dan kemudian kamu pergi dan meninggalkan aku.
Aku hanya bisa diam. dan menangis. Sadar bahwa laki-laki sebaik kamu harus terus aku sakiti. Bodoh?Iya.Tidak tahu diri? Jelas. Tapi lagi-lagi aku bertanya, "aku bisa apa?" - dan kali ini pun aku tak bisa menjawabnya.
iya. Aku bisa apa? Saat semuanya sudah terjadi dan tidak bisa kembali. Saat apa yang kamu benci aku lakukan terus menerus tanpa aku sadari aku telah menyakiti.Aku hanya bisa berjanji dan mengingkari. Sekalipun aku jujur berkata apa adanya kamu pun akan skeptis dengan semuanya.
Aku minta maaf.
Minta maaf atas semuanya. Semua hal yang membuat mu sakit. Aku minta maaf.
Dan kamu hanya akan bilang, "Cuma itu kan yang bisa kamu lakukan?"
Iya. Dan aku pun bertanya lagi, "Aku bisa apa?"
Seperti lingkaran. Tidak akan ada habisnya.
Dengan tulus, aku minta maaf.
dan Terimakasih.
Terimakasih karena telah menjadi lelaki baik dan sangat bisa diandalkan untukku.
Terimakasih karena mau bersabar menghadapi ku.
Terimakasih karena sudah menjadi teman, sahabat, kakak, ayah, dan kekasih sekaligus untukku
Terimakasih karena sudah mau mendampingi ku disaat aku membutuhkan dukungan mu.
Terimakasih karena sudah mau memeluk ku saat aku menangis.
Terimakasih karena selalu mengisi hari-hari ku.
Terimakasih karena membuatku tertawa dan tersenyum.
Terimakasih atas cinta yang begitu besar dan tulus untukku.
Terimakasih atas Segalanya.
Untuk setiap nafas dan detak jantung yang kamu habiskan bersamaku.
Terimakasih Tuhan, untuk menghadirkannya dihidupku.
i love you, Dy.
Subscribe to:
Posts (Atom)